Layka & Keyko
(Pria di Tengah Hutan Manusia)
Rongga itu
menganga di dadanya, tak cukup lebar memang, hanya sebesar telapak tangan anak
balita, namun lumut kebosanan itu nampak menjuntai dari sana, jelas sekali.
Nafasnya kadang tersendat, tubuhnya ringkih, langkahnya gontai, dan matanya
sayup seolah tak kenal cahaya. Dia lahir dari rahim ibu yang tidak lagi
perawan, ayahnya hanya meratapi bahkan memendam itu sepuluh bahkan seratus
tahun lamanya, mungkin.
Layka, nama itu
aneh, tapi tak ada satupun yang tahu artinya, nama yang diberikan seolah sudi
tak sudi oleh kedua orang tuanya, karena memang tidak tahu apa maksud dan arti
nama itu, mungkin ketidaksudian itu pula yang melahirkan rongga di dada Layka.
Cinta seolah menjadi kutukan bagi dia. Setiap hari Layka hanya berdiam tanpa
satu kata pun keluar dari bibirnya, kedua orang tuanya hanya termangun menunggu
mati, tak ada cinta. Sepi seolah menjadi teman akrab bagi Layka, karena tak ada
satu manusia pun yang mengerti dia.
Hutan manusia,
penuh sesak manusia di kota ini bahkan tak bisa membuat Layka tertawa atau
sedikit bergembira, entahlah. Kini Layka sudah dewasa, rongga di dadanya
semakin berlumut. “Bosan, Jenuh, Kontemplasi,” hanya kata-kata itu yang keluar
dari bibirnya sore ini, sore yang jingga. Dia kadang termangun cukup lama, sangat
lama untuk manusia biasa. Sayangnya Layka bukan manusia biasa, dia manusia
dengan rongga kebosanan di dadanya. Cinta seolah menjadi kutukan baginya.
“Kenapa aku harus lahir, atau kenapa aku harus tahu apa itu keperawanan dan
cinta, aku lahir dari rahim yang tak lagi perawan, Ayahku terlalu goblok untuk
diam.” Kalimat itu keluar dari rongga di dada Layka. Dia hanya diam, bibirnya
terkatup rapat, rapat sekali, hingga decit gesek giginya pun terdengar. Dia
menyukai hening walau rongganya kadang terus mengeluarkan konsonan suara yang
ia sendiri tak ingin mendengarnya.
Malam pun tiba,
Layka berjalan entah dengan tujuan yang ingin kemana, tak ada tujuan. Dia hanya
mengikuti apa yang diinginkan kaki bukan otaknya, walau jelas otak yang memberi
perintah kepada kaki untuk melangkah. Seorang wanita tertawa diujung gang dua puluh
meter jaraknya dari Layka berdiri, tawa itu membuat otak Layka memerintahkan
kaki untuk berhenti, kemudian memerintahkan telinga untuk menerka. “Suara apa
itu?” kalimat itu bukan keluar dari mulut Layka, rongga kembali bersuara. Tawa
wanita di ujung gang itu semakin keras. Kini otak Layka memerintahlan kaki
untuk menghampiri. Semakin dekat, mata Layka berbinar, binar itu memantulakan
sebuah raut wajah bermandikan cahaya bulan, wajah yang begitu lembut, rongga
dada Layka mengeluarkan siul dengan konsonan suara yang aneh. Mungkin karena
debar jantung memompa terlalu cepat.
Wanita itu hanya
memandang ke dalam rongga di dada Layka. “Kamu siapa, lalu ada apa dengan
dadamu, bajumu berlubang?” bibir itu bicara, mata Layka masih menari meraba
tubuh wanita itu dengan lembut. “Hei?” ayunan tangan wanita itu menyadarkan
Layka dari lamunnya yang terlalu dalam. “Kamu siapa?” wanita itu bertanya
kembali. “Layka” untuk pertama kalinya ia berbicara dengan orang asing, entah,
wanita ini membawa sebuah bidang kosmik yang aneh di matanya. “Hooh, Aku Keyko,
kenapa dengan dadamu, kamu senang menggunakan baju dengan lubang sebesar telapak
tangan balita?” sambil melihat ke dalam lubang tersebut. Keyko memang tidak
bisa melihat ada rongga menganga di dada Layka yang berlumut kebosanan itu.
“Aku menyebutnya Rongga, jalan keluar masuk sebuah dimensi, tentang apa-apa
yang aku ingin katakan.” Dengan ekspresi yang Layka pun tak tahu harus apa dia
bicara. Mereka membicaraka banyak hal malam itu.
Keyko adalah
seorang penari hujan, dia pulang setelah hujan reda, yaitu malam, Keyko
mencintai hujan namun membenci petir, padahal hujan dan petir adalah satu
paket, sama seperti pahit dan manis atau bulan dan punduk yang mengharapkannya.
Keyko membawa sebuah bidang kosmik yang aneh, mungkin itu pula yang membuat
Layka terdiam sembari mendengar cerita penuh imaji yang Keyko ceritakan.
Sudah dua jam
mereka bicara, Layka mengeluarkan banyak hal aneh untuk golongan manusia biasa,
namun Keyko adalah penari hujan, dia suka hal yang sama anehnya dengan dia.
Layka membicarakan tentang kerajaan serangga, serangga yang menari di bolham
lampu pinggir jalan tepat di depan mereka duduk, atau Keyko yang membicarakan
tentang tarian mistisnya dengan hujan, entahlah perbincangan dua manusia dengan
bidang kosmik yang aneh itu memang terdengar sama, sama bahwa mereka adalah dua
makhluk yang kesepian. Namun Layka tetap yang paling kesepian, terlihat dari
lumut kebosanan yang berjuataian di rongga dadanya.
Malam larut.
Keyko menyudahi perbincangan aneh dengan Layka. “Sudah malam, ibuku pasti akan
marah bila aku pulang terlalu larut.” Kalimat penutup yang membuat Layka
menghentikan khayalnya. “Aku antar ?” tawaran cukup baik untuk pemuda seperti
Layka. “Tidak usah, aku bisa sendiri.” Keyko menolak dengan senyum. Mereka
berpisah, tiang lampu jalan dan raja serangga yang menari di bolham
menyaksikan. Keyko membawa pulang bidang kosmiknya yang aneh, Layka hanya
terdiam sambil menatap punggung yang menjauh itu.
***
Sudah dua jam
Layka duduk di ujung gang tempat kemarin malam dia berjumpa dengan Keyko.
Entah, raut wajah Layka begitu bersemangat hari ini. Memasuki jam ke-lima, di
jam ke-enam, wajah Layka masih terlihat bersemangat walau ada sedikit auranya
yang hilang. Sudah hampir sembilan jam dia duduk, kini senyumnya hampir hilang.
Dia seolah menunggu apa yang tidak mungkin datang, mungkin hujan membawa Keyko
ke-tempat lain untuk menari. Sabar Layka seolah sudah tidak ada lagi, Layka pun
mengangkat tubuhnya dengan sisa-sisa semangat yang hampir hilang itu, dengan
langkah yang berat ia pergi. “Buat apa kau mengharapkan jika memang tidak
dibutuhkan.” Rongga itu kembali bersuara. Layka hanya membuang pandang dan
khayalnya tentang obrolan ia kemarin malam. Layka pun pulang.
Hujan membawa
Keyko pada tempat yang jauh di selatan sana, ketempat Pangeran bermata kecil
berada. Pangeran bermata kecil adalah kekasih Keyko. Wajar bila tariannya
begitu istimewah, tegap dan tegas tariannya, luwes dan penuh filosofi tarian
yang Keyko bawakan untuk Pangeran bermata kecil itu. Tetabuhan gendang yang
entah darimana membawa Keyko jauh ke dalam tariannya. Belai serta nafas lembut
di leher Pangeran itu terlihat sangat tulus. Pangeran itu menikmati, Keyko
tenggelam sangat jauh dalam tariannya, seolah tak ingat ada orang yang
menunggunya di lain tempat. Keyko dan Pangeran itu menghabiskan malam dengan
bara tarian yang masih menyala-nyala.
Pagi datang
lebih cepat dari biasanya, Layka hanya duduk dengan sebatang rokok dan
secangkir kopi, “Bukankah Keyko menyukai kopi, Layka?” Rongga di dadanya bertanya,
Layka mempalingkan wajah dari langit-langit kamar ke Rongga di dadanya, “Kau
menguping pembicaraanku kemarin?” untuk pertama kalinya Layka membalas
perkataan Rongga di dadanya, “Bagaimana tidak, aku adalah bagian dari
kebosananmu, Aku adalah kamu.” Layka hanya terdiam, Rongga pun begitu, mereka
seolah tak ingin melanjutkan pembicaraan yang aneh itu lagi. “Apa menurutmu dia
gadis yang baik?”
Layka sambil menatap langit-langit kamar. “Penari hujan itu,
dia wanita yang istimewah.” Kalimat Rongga itu menyentak Layka dari lamunannya
sesaat. Layka pun bergegas, dia membawa kakinya melangkah lebih cepat dari
biasanya. Ia menuju tempat dimana dia kira akan mendapati Keyko.
Kali ini hujan
membawa Keyko ke sebuah tempat yang tenang, dimana tak ada obrolan yang
menjatuhkan atau kaum yang mentuhankan teknologi, tempat itu begitu tenang,
Taman Kontemplasi namanya, hujan itu juga membawa Pangeran bermata kecil
bersama Keyko seperti sebuah paket kopi. Antara gula dan serbuk pahit yang tak
bisa dipisahkan.
Layka melangkah,
dia melihat gumpal awan menjatuhkan hujan yang berjalan, Layka pun mengikuti
arahnya. Semakin dekat, terus mendekat hingga sangat dekat. “AAAAAAARRRRRRRHHH.”
Rongga di dada Layka mengeluarkan suara bising, konsonan suara yang cukup membuat sakit telinga Layka,
dia melihat Keyko menari begitu intimnya dengan Pangeran itu. Ujung mata Layka
seolah menerka-nerka. “Apa ini, perasaan apa ini, seolah ada sayatan begitu
dalam di hati ini.” Isi kepala Layka kini yang berbicara. Layka pergi, ia pergi
dengan kaki yang begitu berat dengan isi kepala yang bertanya dan rongga yang
kembali menjuntaikan lumut kebosanannya. Layka kembali pulang.
***
Keyko berjalan,
kakinya menarikan tarian hujan dengan lincahnya, kini dia sendiri. Pangeran itu
pergi berpetualang kembali, namun Keyko tetap menaru hatinya pada Pangeran itu.
Hujan pun berhenti, Keyko menghentikan tarian mistisnya, dia duduk diantara
rumput yang basah sama dengan tubuhnya yang basah. Tak jauh Keyko melihat Layka
berjalan dengan wajah yang tak berekspresi. “Hei, kau laki-laki berdimensi
lain.” Keyko memanggil Layka. Layka menatap Keyko dengan heran, lalu senyum
mengembang di wajahnya. Kaki Layka membawanya kepada Keyko. Tidak ada satu
pemuda yang tidak tertarik dengan dimensi dari aura kosmik yang Keyko miliki.
Mata Layka
berbicara tentang apa yang tidak bisa diucapkan mulut Layka, sialnya Keyko
mampu membaca mata, “Aku tahu kau menyukaiku.” Kalimat itu seolah membunuh
Layka. Layka terdiam dengan bodohnya. “Duduklah, mari bicarakan hal aneh lagi.”
Layka pun duduk. Layka mulai menceritakan hal-hal aneh kepada Keyko, tawa
keluar dari bibir Keyko, Layka tak perduli, dia hanya memandangi indah mata
lalu jatuh kesenyumnya yang juga sama indah. Layka menceritakan banyak hal,
yang ia tahu hanya membuat Keyko tertawa tanpa perduli akan rongga di dadanya
yang semakin berlumut, bahkan terkadang berdarah. Sebuah perasaan yang tak
pernah tersampaikan, tentang harapan yang bagai menginginkan bulan di
pelukannya.
Layka hanya
ingin Keyko terus tertawa, dia tahu dia kesepian, namun sepinya akan berubah
menjadi sebuah kesakitan yang mendalam bila ia mengetahui Keyko sedih.
Entahlah, Layka kini berhasil menghilangkan lumut kebosanan di rongga dadanya.
Mungkin karena Keyko yang juga mengisi harinya. Namun lumut itu akan tumbuh
kembali bila Layka melihat Keyko bersama Pangeran bermata kecil itu lagi. Layka
mencoba tak perduli yang ia tahu hanya membuat Keyko tertawa dan bahagia tanpa
perduli rongga di dadanya yang mungkin akan membesar atau mengeluarkan bising
kesakitan yang mendalam.
Untuk wanita
dengan bidang kosmik aneh dari selatan.
Komentar
Posting Komentar