Putri dari Selatan & Kosmiknya

Aku baru saja mengenal seorang gadis, dia dari negeri di selatan yang jauh disana. Entahlah. Pertemuan aneh membawa kami pada bidang kosmik yang juga sama anehnya. Dia sangat suka tertawa, kadang candanya membuat aku seolah masuk ke dalam kosmiknya dimensi yang sangat berbeda, atau mungkin itu dunia aku yang sebenarnya, yang pasti nyaman bila melihat dia tertawa. Aku memberi dia nama Putri Dari Selatan, padahal tak satu kisah pun yang aku tahu tentang dia, yang pasti aku suka bila dekat dengannya. Aura kosmik aneh miliknya membawa aku seolah memasuki sebuah ruang dimana langit-langit dan dinding ruang itu berwarna jingga.

Sebuah awan kelabu di malam setelah rabu, aku merasakan ada yang hilang dari aura kosmiknya malam ini, mungkin dia sedang bersama pangerannya. Aku sebut dia Pangeran Bermata Kecil, aku bahkan terlalu cepat menjadi hakim atas waktu yang singkat atas apa yang aku sendiri belum tahu fakta dan realitanya, tapi yang pasti ada yang jatuh dari rongga dada ke paru-paruku saat melihat Putri Dari Selatanku bersama Pangeran itu. yah, aku hanya rakyat jelata yang menyukai Tuan Putri, bagai ilalang kering yang mengharapkan awan, sebab pundukku tak lagi mau menyapa bulan.

Entahlah, perasaan ini memang tak pantas atau memang tak bisa dipantaskan atau dilayakan untuk menjadi sebuah perasaan, namun apa daya hati seorang rakyat jelata ini masih bisa berdenyut dan merasakan aliran darah yang terus dipompa, ya, aku cemburu. Aku kesal bahkan membenci, tapi tak pernah aku berpikir untuk berpaling. 

Aku ingin merasakan aneh aura kosmik planet luar angkasa miliknya lagi. Mungkin kuda putih yang membawa kami kemarin malam masih menyisakan aura itu. Aku hanya ingin merasakan halus kulit bak sutra miliknya lagi, atau tawa magis yang membawaku ke dalam kosmiknya lagi, sekali lagi saja atau mungkin dua, tidak, aku rasa 100 kali lagi, ah aku selalu ingin dekat dengannya. Aneh memang jika sebuah perasaan datang lebih cepat dari pada bulan yang datang pada perempuan. Semua terlalu cepat. Namun apa daya hati seorang rakyat jelata ini masih berdetak dengan aliran darah yang terus dipompa, aku tak bisa menolak sebuah perasaan, apalagi membohonginya.

Hey Putri, apakah malam ini kau ada dalam kosmik itu ?

Aku hanya ingin tahu, tak lebih. Mungkin bulan diluar jendela itu sedang melihat dia. Andai aku bisa menajadi bulan, atau mungkin menjadi Pangeran Bermata Kecil itu, namun aku tetaplah aku, rakyat jelata yang hanya memiliki sejuta kata sastra dan secuil cinta yang tulus sepertinya, walau aku hampir lupa bagaimana cara mencintai dan dicintai. Baiklah aku hanya ingin menjadi apa yang kau sentuh dan apa yang kau lihat, sebentar saja. Aku hanya ingin masuk kedalam kosmikmu, dimensi yang berbeda dari wanita yang lainnya, itu sangat nyaman, bebas dan tawa itu membuat aku seolah tak tahu jika aku adalah manusia dengan sejuta perkara.

Hey Putri, biarkan aku masuk kedalam kosmik itu, dimensi yang membawa aku dalam kebebasan dan tawa. Lalu aku akan mati tersenyum bila memang malaikat berjubah aneh datang.

Komentar

Postingan Populer