di sofa tengah malam

Hai. titik mengakhir sapaan aku kepada malam dan kesunyian pun menyelimuti, aku tahu malam hanya sedang memelukku, erat.

"Hai....."

Kembali aku beranikan menyapa malam, tidak ada titik yang mengakhiri sapaanku kali ini tapi titik dalam kata atau kalimat ini seolah bersekutu dengan sunyi, selalu suka memberi akhir dan jarak waktu yang aku tak tahu kapan mesti kembali memulainya.

"Memang apa yang hendak kamu mulai?"

Sebuah tanya itu bukan dari si Aku dalam tulisan ini, melainkan dari malam yang sedari tadi aku sapa jiwanya.

Malam memang selalu begitu, sering sekali mempertanyakan hal yang sebenernya dia pun tahu jawabnya, namun itu pula yang aku suka dari malam, dia pandai memainkan pertanyaan agar aku senangtiasa menyusun kata untuk menjawabnya kemudian.

"Aku hanya ingin kamu tahu, jikalau aku menyukaimu."

Rasanya aku bisa menyusun kata yang lebih untuk menjawab pertanyaan malam, namun hanya itu yang bisa keluar dari kerongkonganku saat ini, sisanya hanya menggantung di langit-langit kepalaku.
Malam diam, dia terlalu tua untuk mencerna apa maksud dari jawabanku, detik jam ikut ambil peran dalam tulisan ini memberi jarak atas apa yang aku saka dan malam pun hilang berganti pagi yang bosan.

"Hai. pagi membosankan!"

Ya, titik menyelamatkan aku, memisahkan kata sapaanku untuk malam dengan hujatanku kepada pagi yang membosankan.

Komentar

Postingan Populer