UJIAN NASIONAL MEMBUNUHKU !
Pagi kala mentari baru saja terbangun
dari peraduannya, aku terbangun menatapi langit-langit rumah yang rapuh namun
setia menaungi. Lambai-lambai kain gorden menyapa seakan mengatakan ‘selamat
pagi’ wangi kue tradisional buatan tangan ibu menggoda tercium dari dapurku.
Aku pun terbangun lalu bergegas mandi untuk berangkat ke sekolah, ya Aku adalah
seorang siswa kelas tiga sekolah menengah atas yang sedang bersiap dengan Ujian
Sekolah atau UN yang menjadi momok menakutkan bagi semua siswa, dimata mereka
UN bagai pembunuh bayaran yang siap membunuh dengan belati tajam. Ada dari
mereka yang membunuh dirinya sendiri karena takut dengan bayang-bayang
kegagalan. Mengapa harus ada UN jika tau itu hanya membuat ketakutan dan
kematian. Aneh.
Setibanya di sekolah semua sibuk dengan aktivitasnya ada dari mereka yang sedang membicarakan sepatu baru di mall-mall, ada pula dari mereka yang membicarakan dan bangga dengan aib mereka ada juga dari mereka yang sibuk berdandan. Mengapa ada yang berdandan di sini? bukankah ini sekolah, entahlah mungkin bagi mereka penampilan akan lebih penting dari isi kepala mereka. “eh gun lu udah ngerjain tugas matematikanya bu Tyas?” ujar Aji teman sekelasku sambil menepuk bahuku dari belakang “Wah sial gue lupa ngerjain ji, lu udah?” sahut aku dengan wajah muram. Karena bu Tyas adalah guru matematika killer yang siap menghukum muridnya yang tidak mengerjakan tugas. “Kacau lu gun, bisa abis lu dihukum sama bu Tyas.” balas Aji dengan tawa kecilnya. Bukan tanpa alasan aku tidak mengerjakan tugas dari Bu Tyas. Sudah seminggu ini aku membantu Ibuku berjualan di pasar, ya Ibuku adalah seorang penjual kue tradisional di pasar, iba bila melihat ibuku yang sudah semalaman sibuk membuat kue lalu pagi sebelum matahari muncul Ia pergi ke pasar untuk menjajahkan kuenya dengan harapan laba agar aku bisa terus bersekolah. Ibuku pernah berkata “Jadilah anak yang pemberani jangan takut akan apapun dan jadilah anak yang pintar tapi tidak membodohi” kalimat itu juga yang selalu membuatku bangga akan Ibu. Dia selalu menjadi motivator ulung untukku.
Kembali keruang kelas yang riuh gaduh dengan candaan yang seketika hening karena Bu Tyas masuk kedalam kelas “Tolong kumpulkan tugas yang kemarin saya berikan” ujar Bu Tyas dengan wajah yang menyeramkannya. Semua siswa maju untuk mengumpulkan tugas yang mungkin baru tadi pagi mereka kerjakan. Hanya aku dalam kelas itu yang tidak mengerjakan tugas. “Guntur Gunawan mana tugasmu.?” Dengan nada yang naik Bu Tyas menanyakan itu “Emm anu bu ituu..” aku gelisa dan bercapur takut, belum sempat aku menyelesaikan alasanku, Bu Tyas menyela dan berteriak “KELUARRR !” Seketika kelas hening, aku yang memang bersalah lalu keluar dari kelas. Tapi mengapa Bu Tyas menyuruhku keluar dia bahkan belum mendengar alasanku tidak mengerjakan tugas, tidak mau mendengar atau memang tidak mau perduli itu memang tipis bedanya. Apakah perlu dengar cara berteriak ? apa yang akan dihasilkan dari guru yang egois dan arogan seperti dia. “Guru yang tidak terima kritikan layak masuk keranjang sampah. Kata Soe Hok Gie.” Aku memang pengagum Soe Hok Gie seorang keturunan cina yang berani melawan ketidakadilan.
***
Sebulan berlalu. Kini semua sibuk
membicarakan Ujian Nasional, kadang aku berpikir perlukan pendidikan di
Indonesia yang memang sudah sangat menyiksa otak siswanya ditambah dengan Ujian
Nasional yang menyeramkan Bukankah ini malah semakin menyiksa. Dan yang
lebih parah dari pendidikan di Indonesia adalah ketika semua siswa bersekolah selama
tiga tahun hanya ditentukan oleh empat hari Ujian Nasional untuk menentukan
kelulusannya. Serta adanya indikasi kecurangan kala Ujian
Nasional dimana “contekan” dianggap hal yang membantu. Membantu apanya toh itu
adalah perbuatan curang, atau memang calon penerus bangsa ini dibentuk menjadi
pribadi-pribadi yang curang. Pantas saja banyak koruptor di negara ini. Ah biarlah
toh orang-orang itu juga tidak perduli.
Sepulang sekolah kala sore datang aku duduk disebuah bangku taman sambil menikmati jingga langit. Sore menjadi waktu yang paling menyenangkan ketika setengah hari 'terpenjara' dalam sekolah. Ya terpenjara. Bagaimana tidak aku dipaksa untuk menghafal begitu banyak hal, termasuk hal yang tidak aku suka. Bukankah kita hanya perlu memahami dan mampu mengaplikasikan isi dari materi yang diberi oleh guru bukan hanya menghafalnya. Sore ini aku kembali kepada lamunan sore sambil memikirikan Ujian Nasional yang tinggal 10 hari lagi, entahlah perasaan ini begitu aneh antara takut, gelisah dan benci bersatu, mungkin perasaan itu juga yang sedang dirasakan ratusan bahkan ribuan pelajar seperti aku. Sore mulai tenggelam bersembunyi dari bulan dan aku pun melangkahkan kaki untuk pulang.
Tiga hari berlalu dengan cepat kini
hanya tujuh hari menuju Ujian Nasional. Pagi ini aku melihat berita tentang
seorang pelajar yang bunuh diri karena takut akan Ujian Nasional. Apa ini?
kenapa ada yang begitu takut akan Ujian Nasional, apakah itu fungsi dari Ujian
Nasional menakuti setiap pelajar? entahlah. Aku pun harus bersekolah
memenjarakan diri dalam ruang persegi penuh obrolan dimana imajinasi disekat
oleh materi guru yang membosankan. “Gun anak-anak mau patungan buat beli
contekan nih, lu mau ikut patungan gak?” Bisik Erik kepadaku “hah? Patungan
untuk contekan? lu semua udah gila.” Sambar aku dengan nada kesal kepada Erik
“Alah munafik banget sih lu, mau lulus kaga lu?” tanyanya degan nada tinggi. “ya
tapi apa perlu dengan membeli contekan?” Pikiranku semakin menjadi pagi itu,
belum habis tanyaku tentang seorang anak yang bunuh diri karena takut akan Ujian
Nasional kini ada yang rela menghabiskan uangnya demi membeli “contekan UN”
apakah pendidikkan di Negara ini memang dibuat untuk membentuk generasi yang pesimis
dan minder akan kemampuannya sendiri?
Kembali aku mendengar begitu banyak
berita tentang UN dari bunuh diri, pergi ke paranormal hingga mandi air
kembang, aneh. Kenapa kita begitu primitif
menghadapi UN. Mungkin opini dan alasan-alasanku hanyalah bagian dari
keapatisanku saja. Tapi kenapa Aku begitu peduli dengan tai kucing bernama UN
itu. H-2 Ujian Nasional semua begitu tegang, terlihat dari raut-raut wajah
teman kelasku yang diselimuti kegelisahan dan ketakuan. Siang itu aku dan semua
siswa Sekolahku dikumpulkan di aula sekolah untuk menggelar doa bersama. Doa
bersama? begitu menyeramkanyakah UN itu sampai kami harus berdoa bersama,
memang semua harus diserahkan kembali kepada Tuhan tapi apakah perlu kami
dibuat semakin tegang dengan berkumpul bersama lalu berdoa sambil menangis semua
situasi itu semakin memperkeruh suasana hati dan otakku. Bukankah seharusnya
kami diberikan bimbingan personal agar semua dari kami tidak merasa tegang.
“Ujian kali ini 30 paket soal, maka dari itu sukar untuk “kami” memberikan
“bantuan.” Nada diplomatis dikeluarkan kepala sekolahku diatas mimbar dalam
aula ini. Hah? apa yang dimaksud dengan “bantuan” apa itu contekan seperti apa
yang sering diberitakan ditv? “saya yakin sekolah kita bisa mendapatkan
kelulusan 100% seperti tahun-tahun yang lalu” kembali kelapa sekolahku
mengeluarkan kalimat motivasi. Layaknya motivator ulung dia terus berpidato
dengan nada-nada menyakinkan. Semua nampak begitu yakin dengan apa yang
dituturkan oleh kepala sekolahku, tapi semua nampak janggal dimataku terlihat
dari setiap kata yang dikeluarkan oleh kepala sekolahku, entahlah kecurigaanku
bahkan lebih besar dari logika yang ada.
Siang itu masih di aula yang sama kami pun melakukan doa bersama, ada dari beberapa temanku yang menangis karena ketakutan yang tinggi akan UN. Apakah menangis bisa merubah hasil dari Ujian Nasional nanti tentu tidak. Kita hanya perlu belajar dan berdoa untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Atau kenapa tidak dihapuskan saja sekalian tai kucing bernama UN itu jika memang hanya menghasilkan kecurangan dan bahkan kematian atau cerita duka dari ketidak lulusan.
“Gila ujian 30 paket gimana nyonteknya
nih?” Kalimat yang kudengar dari kumpulan siswa-siswa yang berkumpul di belakangku.
Sebegitu harusnyakah kami menyontek saat UN atau memang itu semua peraturan
saat UN dimana semua siswa berlomba untuk saling menyontek. Selesai dengan doa
dan menagis bersama aku memutuskan untuk langsung pulang kerumah untuk belajar, membaca materi-materi yang membuatku penat. Terang saja aku bukanlah murid yang
pintar tapi juga bukan murid yang tergolong bodoh.
Aku hanyalah murid biasa ditengah kebiasa-biasaan saja. Sesampainya di rumah aku melihat ibuku yang sedang tertidur pulas diatas tikar tipis yang sudah kusam iba aku melihatnya tapi apadaya, aku adalah siswa kelas tiga SMA yang belum bisa memberikan apa apa yang berarti. Kadang aku ingin berkerja untuk memberi tambahan uang demi ibuku yang telah membesarkanku seorang diri. Ayahku telah pergi entah kemana meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang Ayah. Aku bahkan belum pernah melihat wajah Ayahku bahkan walau hanya sekedar lewat foto. Kembali keruang tamuku yang sempit dimana ibuku terbaring pulas karena lelah aku hanya bisa menyelimuti Ibu dengan kain sarung milikiku dan membiarkan ibu yang sangat lelah itu. Di kamar aku bahkan terlalu penat untuk membuka buku, tapi semua harus aku lakukan karena hanya tinggal menghitung hari saja untuk UN. Matematika Bahasa Indonesia dan berbagai materi lain aku baca mencoba memahaminya. Malam pun semakin larut aku ingat esok pagi harus kembali kesekolah karena ada sesuatu yang hendak diberikan kepada semua siswa kelas tiga oleh salah satu guru ‘tim sukses’ di sekolahku aku tak tahu apa itu mungkin kalimat-kalimat motivasi lagi.
***
Pagi pun kembali badan begitu lelah
seakan menolak ke sekolah entah perasaan yang aneh menyelimuti tubuh ini belum
pernah aku merasakan perasaan yang seaneh ini, tapi aku memutuskan untuk tetap
berangkat kesekolah, mandi meminta doa restu dari ibu lalu berangkat. Di
perjalanan aku selalu memandangi langit, melihat kumpulan air bernama awan
mengambang terbang berpetualang mengarungi alam. Tapi aku tak ingin menjadi awan
karena ia hanya mangikuti apa kata angin tak punya pendirian. Setibanya di sekolah semua siswa berkumpul di aula sekolah semua terlihat sedang berbincang
membicarakan UN yang besok akan digelar. “Ngiiiiiiiiiingggg dup dup” terlihat
salah satu guru mengambil microphone
“Selamat Pagi murid-muridku yang tercinta esok kita akan menghadapi UN seperti
tahun-tahun yang lalu sekolah kita harus mencapai kelulusan 100%, dan kami
guru-guru percaya kalian bisa” kembali kalimat-kalimat yang memuakkan itu
keluar dari salah satu guru diatas mimbar aula. 15 menit dia berpidato. “Aji
satio, Mawar Delima, Rangga Eka Putra” satu persatu nama dipanggil hingga 10
nama siswa terpanggil, “ini adalah ketua-ketua dari setiap ruang saat UN esok”
ujar salah satu guru itu kepada seluruh siswa.
Kenapa ada yang begitu janggal disini 10 siswa yang dipanggil adalah orang-orang yang terbilang murid malas dan nakal di sekolah lalu kenapa mereka yang menjadi ketua dari tiap tiap ruangan. Kemudian 10 siswa tadi dibawa masuk kedalam diskusi di belakang jauh dari mimbar antara guru dan tim sukses sekolahku entah apa yang mereka diskusikan. Situasi dalam aula itu begitu riuh penuh dengan obrolan, kemudian “Ya saya telah mengintruksikan peraturan-peraturan kepada 10 ketua yang telah kami tunjuk untuk setiap ruang, jadi untuk kalian semua yang ingin bertanya langsung saja ke ketua ruanganya masing-masing” salah satu guru itu berbicara diatas mimbar kemudian meninggalkan kami dalam aula. Semua siswa langsung menghampiri ketua ruangannya masing-masing, aku melihat tiap ketua ruangan memegang amplop coklat yang aku tidak tau apa isinya, satu persatu siswa diberikan selembar kertas. Mungkin tata tertib saat Ujian esok. Aku pun mendapatkan selembaran kertas itu dan betapa terkejutnya aku melihat kertas yang semula aku anggap tata tertib UN ternyata berisi huruf A,B,C,D yang berbaris memanjang kebawah. “Ini apa ?” tanyaku kepada ketua ruanganku “itu kunci jawaban buat besok” jawabnya dengan tawa kecil. Seketika aku marah “gilaa ! apa ini yang disebut pendidikan? Gue gak mau curang buat UN besok gue yakin sama kemampuan gue sendiri!!” nadaku meninggi, semua mata sinis pun terarah kepadaku “alah jangan munafik deh lu udah tinggal ikutin aja susah banget sih.” Sahut ketua ruanganku dengan mata dan raut yang kesal “gak! ini gak bener gue bakal laporin ini semua” aku bergegas keluar dari ruang aula yang mulai memanas karena tindakanku. Seperti kata Soe Hok Gie “mendiamkan kesalahan adalah kejahatan” aku pun berjalan menuju rumah dan hendak mencurahkan semua kepada ibu. “gun !!!” ketika aku menoleh aku melihat salah satu guru yang tadi berbicara di atas mimbar aula membawa pisau ditangan kanannya. Aku terkejut. Belum sempat otakku berpikir tentang apa yang hendak dilakukannya ia sudah menghunuskan pisau itu ke arahku “jleeeb..” seketika aku melihat darah keluar dari perutku pandanganku pun buyar hanya sayup-sayup perkataan yang ku dengar “andai saja kamu ikuti apa yang telah saya intruksikan semua tidak begini.” Aku terbujur kaku mati dalam kebenaran yang hendak aku suarakan.
Komentar
Posting Komentar