Senja Jingga Terakhir Di Malam Bulan Ketiga
Senja jingga terakhir di malam bulan ketiga.
Dia adalah pertanyaan dari sebuah jawab. "Tidak".
Kelabu abu sore itu. jelas tanpa senja jingga.
Sore atau malam? aku tak lagi bisa merabanya.
Wanita senja tak lagi bertudung sutra lelaki pemurung.
Dia pergi bagai merpati yang lolos dari tempurung.
Aku terpuruk, buruk. Senja jingga tiada. kemana ?
Entahlah. sebuah gunung di tengah jawa mungkin tau jawabnya.
Perbedaan warna adalah penyebabnya. dia jingga aku toska.
Dia tidak pernah ingin menyatukannya?
Hanya sebuah tanya yang tak satu iblis pun tau apa jawabnya.
Aku hanya diam dalam sebuah tanya, kenapa ada kenapa?
Sebuah tanya akan perbedaan warna yang aku pun tak tau kenapa.
Apakah cinta memandang sebuah warna? atau aku saja yang buta.
Senja jingga itu pergi. kini aku dipaksa cinta kepada pagi, atau mungkin malam.
Hey Senja tetaplah jingga. Aku suka tawa cerianya.
Dia adalah pertanyaan dari sebuah jawab. "Tidak".
Kelabu abu sore itu. jelas tanpa senja jingga.
Sore atau malam? aku tak lagi bisa merabanya.
Wanita senja tak lagi bertudung sutra lelaki pemurung.
Dia pergi bagai merpati yang lolos dari tempurung.
Aku terpuruk, buruk. Senja jingga tiada. kemana ?
Entahlah. sebuah gunung di tengah jawa mungkin tau jawabnya.
Perbedaan warna adalah penyebabnya. dia jingga aku toska.
Dia tidak pernah ingin menyatukannya?
Hanya sebuah tanya yang tak satu iblis pun tau apa jawabnya.
Aku hanya diam dalam sebuah tanya, kenapa ada kenapa?
Sebuah tanya akan perbedaan warna yang aku pun tak tau kenapa.
Apakah cinta memandang sebuah warna? atau aku saja yang buta.
Senja jingga itu pergi. kini aku dipaksa cinta kepada pagi, atau mungkin malam.
Hey Senja tetaplah jingga. Aku suka tawa cerianya.
Komentar
Posting Komentar