Salvia : “Kamu tau aku ini untuk siapa ?”


Part 1

“Kamu tau aku ini untuk siapa ?”

Kalimat itu keluar dari bibir tipis nan merah milik Salvia saat bercermin di kamarnya yang temaram oleh pendar lampu lampion, bayangan dalam cermin itu pun hanya diam seraya diamnya pula Salvia, jelas sebuah percakapan yang sia-sia. Kalud bertanya memikirkan untuk siapa kiranya hati Salvia mesti singgah, pertanyaan itu menggelayut dalam kepala Salvia sejak semalam.

“Kamu tau, Raizel semalam menciumku sedangkan Banyu terus membuatku rindu.”

Kembali Salvia seolah meyakinkan diri jika bayangan dalam cermin adalah teman yang paling bisa ia ajak bicara, namun kembali hanya diam yang ia dapati serta sunyi yang memeluknya erat. Salvia putus asa, ia menyadari berdialog dengan bayangannya sendiri adalah sebuah kesia-siaan.

***

Raizel asik menabuhkan drumnya, rambutnya yang berantakan serta lugas tangan yang seolah menari kesana kemari seperti punya magis tersendiri yang mampu menghipnotis wanita manapun yang melihatnya, sedangkan Banyu adalah pria lucu berwajah oriental china yang selalu mampu membuat Salvia merasa rindu.

Salvia diam pada sebuah bangku yang tak jauh dari kerumunan orang menonton Band yang menyanyikan lagu-lagu sendu, Salvia tidak larut hanya menunggu Raizel selesai memainkan drumnya dan berharap menghampiri.

“Kau masih sama, tidak pernah mau ikut larut seperti wanita lainnya, mungkin itu yang membuat aku mau terus ingin bersamamu. Malam ini ikut aku ke Bandung, mau ya ?”

Kalimat itu keluar dari mulut Raizel, membuyarkan lamunan Salvia. Salvia hanya diam dan tak mampu berkata sepatah kata pun, Raizel meraih tangan Salvia dan mengajaknya untuk pergi ke Bandung tanpa persiapan apapun.

***
Sebuah taman dengan pendar lampu yang temaram, dingin udara Bandung menjelar keseluruh tubuh Salvia, Raizel melepas jaket dan memakaikannya kepada Salvia.

“Terimakasih.”

Ujar Salvia seraya melempar tatapnya ke langit yang penuh bintang.

Raizel hanya menatapi Salvia yang mengagumi langit.

“Aku percaya kalo ada kehidupan lain diluar sana.”

Kalimat yang membuat Salvia harus menarik pandangannya dari bintang kepada Raizel, dengan beribu tanya diraut Salvia tak bisa disembunyikan.

“Kamu tahu jika seekor siput tidak akan pernah tahu jika ada apel atau semacamnya di depan dia jika diletakan di depannya dan kembali diambil hanya dalam hitungan detik, karena begitu lambat otak siput berpikir, aku percaya jika dalam skala yang lebih besar, ada sesuatu yang tidak dapat kita lihat padahal sesuatu tadi sudah ada di depan kita untuk beberapa saat namun kembali angkat hanya karena kita tidak terlalu cepat untuk mampu menangkap apa yang ada di depan kita, kamu ngertikan maksudnya ?”

Raizel mengeluarkan senyum kecil seolah menyadari jika yang dia bicarakan terlalu rumit, sedangkan Salvia hanya tertawa karena tidak mengerti dengan apa yang Raizel bicarakan.

“Aku suka tawamu, juga binar matamu.”

Kalimat itu seketika membuat hening dan hangat yang menjalar ditengkuk Salvia, ada magis yang tak bisa terbahasakan, ada tatap yang begitu dalam yang mampu menghipnotis Salvia sehingga dia tidak menyadari jika Raizel telah menciumnya. Seketika Salvia menarik kepala dan menyeka basah bibir, dengan merah rona pada pipi yang tak mampu ia sembunyikan.

Salvia sesaat terdiam, ada peperangan hebat dalam batinnya, sekelabatan wajah Banyu dengan senyum yang membuat matanya hilang menggelayut di kepala Salvia.

***
Bersambung....

Komentar

  1. Nice. Lebih bagus lagi jika di buat sisi banyu juga. Dan semakin complicated sehingga salvia seperti berada di tengah tengah cinta mereka. Banyu yang dia rindukan tak pernah hadir dan raizel yang slalu hadir tidak mampu membuat hati salvia bahagia seutuhnya. (:

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer