Salvia : “Kamu tau aku ini untuk siapa ?”
“Kamu tau aku ini untuk
siapa ?”
Kalimat itu keluar dari
bibir tipis nan merah milik Salvia saat bercermin di kamarnya yang temaram oleh
pendar lampu lampion, bayangan dalam cermin itu pun hanya diam seraya diamnya
pula Salvia, jelas sebuah percakapan yang sia-sia. Kalud bertanya memikirkan
untuk siapa kiranya hati Salvia mesti singgah, pertanyaan itu menggelayut dalam
kepala Salvia sejak semalam.
“Kamu tau, Raizel semalam
menciumku sedangkan Banyu terus membuatku rindu.”
Kembali Salvia seolah
meyakinkan diri jika bayangan dalam cermin adalah teman yang paling bisa ia
ajak bicara, namun kembali hanya diam yang ia dapati serta sunyi yang
memeluknya erat. Salvia putus asa, ia menyadari berdialog dengan bayangannya
sendiri adalah sebuah kesia-siaan.
***
Raizel asik menabuhkan
drumnya, rambutnya yang berantakan serta lugas tangan yang seolah menari kesana
kemari seperti punya magis tersendiri yang mampu menghipnotis wanita manapun
yang melihatnya, sedangkan Banyu adalah pria lucu berwajah oriental china yang
selalu mampu membuat Salvia merasa rindu.
Salvia diam pada sebuah
bangku yang tak jauh dari kerumunan orang menonton Band yang menyanyikan
lagu-lagu sendu, Salvia tidak larut hanya menunggu Raizel selesai memainkan
drumnya dan berharap menghampiri.
“Kau masih sama, tidak
pernah mau ikut larut seperti wanita lainnya, mungkin itu yang membuat aku mau
terus ingin bersamamu. Malam ini ikut aku ke Bandung, mau ya ?”
Kalimat itu keluar dari
mulut Raizel, membuyarkan lamunan Salvia. Salvia hanya diam dan tak mampu
berkata sepatah kata pun, Raizel meraih tangan Salvia dan mengajaknya untuk
pergi ke Bandung tanpa persiapan apapun.
***
Sebuah taman dengan
pendar lampu yang temaram, dingin udara Bandung menjelar keseluruh tubuh
Salvia, Raizel melepas jaket dan memakaikannya kepada Salvia.
“Terimakasih.”
Ujar Salvia seraya
melempar tatapnya ke langit yang penuh bintang.
Raizel hanya menatapi
Salvia yang mengagumi langit.
“Aku percaya kalo ada
kehidupan lain diluar sana.”
Kalimat yang membuat
Salvia harus menarik pandangannya dari bintang kepada Raizel, dengan beribu tanya
diraut Salvia tak bisa disembunyikan.
“Kamu tahu jika seekor
siput tidak akan pernah tahu jika ada apel atau semacamnya di depan dia jika
diletakan di depannya dan kembali diambil hanya dalam hitungan detik, karena begitu
lambat otak siput berpikir, aku percaya jika dalam skala yang lebih besar, ada
sesuatu yang tidak dapat kita lihat padahal sesuatu tadi sudah ada di depan
kita untuk beberapa saat namun kembali angkat hanya karena kita tidak terlalu
cepat untuk mampu menangkap apa yang ada di depan kita, kamu ngertikan maksudnya ?”
Raizel mengeluarkan
senyum kecil seolah menyadari jika yang dia bicarakan terlalu rumit, sedangkan
Salvia hanya tertawa karena tidak mengerti dengan apa yang Raizel bicarakan.
“Aku suka tawamu, juga
binar matamu.”
Kalimat itu seketika
membuat hening dan hangat yang menjalar ditengkuk Salvia, ada magis yang tak
bisa terbahasakan, ada tatap yang begitu dalam yang mampu menghipnotis Salvia
sehingga dia tidak menyadari jika Raizel telah menciumnya. Seketika Salvia
menarik kepala dan menyeka basah bibir, dengan merah rona pada pipi yang tak
mampu ia sembunyikan.
Salvia sesaat terdiam,
ada peperangan hebat dalam batinnya, sekelabatan wajah Banyu dengan senyum yang
membuat matanya hilang menggelayut di kepala Salvia.
***
Bersambung....
Nice. Lebih bagus lagi jika di buat sisi banyu juga. Dan semakin complicated sehingga salvia seperti berada di tengah tengah cinta mereka. Banyu yang dia rindukan tak pernah hadir dan raizel yang slalu hadir tidak mampu membuat hati salvia bahagia seutuhnya. (:
BalasHapus