CERITA DARI NEGERI PADUSUNAN



CERITA DARI NEGERI PADUSUNAN

Malam, setelah dua jam berdiri dan berdesakan dalam kereta ekonomi dari Stasiun Serpong, Lebak Banten tempat sunyi yang jauh dari riuh dan pengapnya kota Jakarta, kami berkumpul di saung Teater Gates untuk membahas Parade Film Kampus yang akan kami (Anak Kecil Production) akan selenggarakan disini. Berbaur kami dengan obrolan yang hangat dan sesekali ngalur ngidul karena pembahasan Parade telah usai, suasana di Lebak kala malam cukup dingin dimana aku harus memakai jaket untuk menghangatkan diri. Malam datang kami (Bang Yudha, Eki dan Aku Loike) pun tidur dalam ruang tak begitu besar tapi nyaman, ruang yang berisi banyak angklung-angklung dan lampu untuk pementasan Teater Gates menjadi naung kami malam ini berlindung dari dinginnya angin Lebak.

***
Pagi datang diiringin hujan. Lebak Banten begitu damai tak ada suara deru mesin atau tatapan kosong tak peduli warga Jakarta. Semua hening hanya suara tetesan air hujan yang beradu dengan bambu-bambu dan tanah saja yang kudengar. Kini pukul sembilan pagi Bang Yudha dan Eki masih terlelap dalam tidurnya, bagaimana tidak obrolan kami begitu lama semalam, sekitar pukul empat pagi kami baru tertidur. Siang datang bagai burung hantu dimalam hari tak bersuara begitu saja rambat sinar matarhari mensetubuhi tanah yang hanya diam, siang bersinar agak terik tapi tak terasa panas. Angin lembut mengelus tubuh yang baru saja tersegar dari lelap semalam. Aku, Eki dan beberapa orang dari Teater Gates berkumpul di saung untuk makan ketoprak berisi ketupat, timun, bihun, dan saus kacang yang terasa pedas segar dimulut, aku begitu betah disini bukan karena makan, rokok dan kopi yang gratis tapi ramah penghuni dusunnyalah yang membuat tubuh dan jiwa ini seakan menolak jika tau esok aku harus kembali ke Tangerang lalu ke Jakarta untuk kuliah.

Kembali kepada siang yang cerah di Lebak Banten aku melanjutkan imajinasi tinggiku dalan rangkaian kata yang saling bertautan menjadi tiap-tiap kalimat yang berkesinambungan membentuk cerita yang mungkin hanya sebagian dari khayalku. Cerita tentang nepotisme para politikus Banten pun dikeluarkan dari mulut-mulut yang jujur. Ya jujur sebab mata mereka yang bercerita pun ikut bercerita tentang apa yang mereka lihat, miris bila aku mendengar berita bisa sang ‘ratu’ hidup mewah dalam istananya sedangkan rakyatnya hidup dalam rumah anyaman bambu yang sudah lapuk rapuh bahkan terlalu rapuh. Mungkin. Memang bukan urusan aku yang hanya berkepentingan datang untuk mengurus Parade Film Kampus di STKIP Rangkas Bitung untuk berbicara atau sekedar mengkritik sistem politik disini. Biarlah. Biarkan si ‘ratu’ hidup dalam sumpah serapah toh Tuhan tak pernah tidur.

Lebak. Salah satu kabupaten di provinsi Banten yang penuh dengan destinasi wisata yang indah dari Pantai Sawarna dengan pasir putih dan pantai berombak tingginya sampai pemukiman Suku Baduy dengan tradisi sistem sosialnya yang sangat kuat. Tapi entah kenapa begitu banyak tempat indah disini tidak menjamin kelangsungan hidup masyarakat disini kemiskinan menjadi teman akrab yang tak mau pergi, namun semua begitu bahagia dengan kesederhanaan bahkan mereka masih mau menyuguhi aku kopi gratis disini. Keramahan mereka canda dengan logat sunda yang kental menjadi penghibur aku disela istirahat setalah lelah menyalesaikan MOU dan RAB untuk Parade Film Kampus. Dan karena keramahan mereka pula yang membuat aku menulis untuk menyampaikannya kepada semua yang membaca tulisan ini. Walau masih terkenal dengan debus dan teluh (salah satu ilmu sejenis santet) percayalah Lebak tidak seseram apa yang kalian pikirkan.

Memang masih dua bulan lagi aku shooting produksi Parade Film Kampus disni tapi jiwa ini seakan tak sabar menanti melihat keindahan Lebak Banten. Bagaimana tidak lokasi shooting Parade Film Kampus ini berlokasi di spot yang sangat indah di Lebak, Pantai Sawarna, Arum Jeram Citerek, Pemandian Cipanas dan Pemukiman Suku Baduy menjadi penggoda jiwa yang sudah sangat muak dengan hirup pikuk kota Jakarta dan Tangerang yang serba pengap bahkan terbilang menyiksa jiwa yang sudah lelah disuguhi materi dosen yang memuakkan.

Diakhir cerita dan opini aku dalam tulisan ini aku berdoa, agar Tuhan menjaga warga Lebak Banten yang ramah dan mendapat kedamaian nirwana. Dansemoga meraka para politikus pelaku nepotisme yang kejam membunuh perlahan warga mendapat hukuman yang setara entah di alam nanti atau di dunia ini. Tuhan kabulaknlah. Amiiiieen.

-Salam dari Negri Padusunan- 

Komentar

  1. yah.,.,yah.,.,yah.,.,saya telah membaca ini.,.,keren.,.,ada masa depan di situ.,.,

    BalasHapus
  2. mantaaapp,,semoga lebak-banten mnjadi daerah yg sellu mendapat kedamaian nirwana,,,

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer