Malam itu datang.

Malam. Aku selalu suka malam. Entah kenapa perasaan dan jiwa begitu tenang begitu hari lelah pucat berwarna jingga itu berganti gelap, bernama malam. Belai angin malam, genit kedip bintang, serta laron terbang lambat di lampu pijar bertopi pendekar cina menjadi hal yang menyenangkan untuk dirasakan. Malam ini aku tak berelegi. Aku senang, layaknya seorang balita kecil polos yang mendapatkan permen berwarna cerah. Tadi aku bercumbu dengan malam. Dia begitu bergairah menarik baju serta celanaku. Nafasnya dekat. Dingin seketika tengkukku.

Malam. Kamu cantik. Malam kamu sungguh menarik. Aku tak begitu pandai merayu, bahkan aku gugup saat malam menggodaku. Gelap bertabur butir-butir bintang, serta luruh daun yang dikoyak angin menjadi perhiasan malam. Aku berciuman dengan malam. Bukan dengan wanita bernama “malam” tapi benar dengan malam. Gelapnya selalu menggodaku. Biarkan aku saja yang menikmati malam.

Baru tadi aku berhenti berpikir. Berhenti memikirkan apa-apa. Apa-apa itu apa ? entahlah aku hanya tidak mau memikirkan apa-apa yang apa itu. Biarkan mengalir seperti air. Biarkan gelap seperti malam. Gelap bukan hal yang menakutkan. Percayalah. Malam datang. Aku menangis. Malam pergi aku tertawa. Malam memang begitu. Begitu untuk orang kebanyakan. Berbeda dengan aku. Malam datang aku riang. Malam pergi aku terdiam, kadang menangis. Aneh ? apa yang aneh jika kamu berpikir ini tidak aneh. Berhenti mikirkan apa-apa yang apa itu. Percayalah pada malam.

Tangis bayi ? coba kamu keluar kala malam. Duduk dan dengar suara alam. Mereka seperti tangis bayi yang baru lahir. Menyenangkan. Coba kamu lihat ke langit malam lalu biarkan ia merasuki dirimu. Aku baru saja melakukan itu. Bukan tentang apa-apa itu. Ini tentang bagaimana kita menikmati hidup. Pintar saja tidak cukup. Kamu perlu sedikit gila untuk menjadi apa-apa yang mereka pikirkan itu. Gila bukan berarti tidak tahu. Gila adalah kebebasan. Biarkan kamu menjadi gila yang dipikirkan oleh mereka itu. Sebab malam segera datang. Bersiaplah.

Laron itu masih terbang lambat di lampu pijar bertopi pendekar cina. Cicak kerempeng menunggu sabar karena lapar. Mati. Bukan laronnya, tapi kamu yang tidak mau menikmati malam. Mati. Nah itu baru laron yang mati dimakan cicak lapar. Kini cicak itu tak lapar, sebab ia menikmati malam. Jangan mengeluhkan apa-apa itu, biarkan malam yang menangkan kita. Ssssttt malam datang. Bersiaplah.

Air hitam berasap ini habis bersama malam yang mulai pucat. Pagi yang menyebalkan datang. Matahari yang iri kepada bulan sombong mengintip. Bintang pergi karena matahari begitu sombong. Matikan saja otakmu. Kita tunggu malam itu datang lagi. Jangan pikirkan apa-apa itu. Sebab malam akan datang.

Lebak Banten
00:33 Wib

Komentar

Postingan Populer