Pancasila. Benda apa itu ?




Pancasila. Benda apa itu ?

Malam datang, entah kenapa aku ingin sekali beropini tentang gaya hidup anak muda jaman sekarang. Bukan tentang seks atau narkobanya, walaupun seks dan narkoba adalah hal yang menarik untuk dibicarakan, atau hanya untuk sekedar terlihat keren karena membicarakan 2 hal tesebut. Kali ini aku ingin beropini tentang hilangnya nilai Pancasila dalam hidup anak muda Indonesia, akhir-akhir ini. Pancasila yang dianggap kuno dan kaku pun, mulai ditinggalkan oleh banyak anak muda di Indonesia. Mungkin globalisasi yang terlalu deras datang, sebagai salah satu faktornya. 

Aku selalu bertanya kenapa banyak anak muda yang lebih suka bergaya Korea atau Amerika di Indonesia. Apakah batik sudah menjadi hal yang membosankan hingga kita meninggalkannya, lalu ketika kita benar-benar kehilangan batik atau apapun yang bernuasa Indonesia lainnya. Bisakah kita mengenali siapa kita sebenarnya lagi ? Tentu tidak. Sebab kita lambat laun kehilangan jati diri kita sebagai Indonesia dengan meninggalkan nilai-nilai dari Pancasila itu sendiri.

Tentu aku tidak sepenuhnya menyalahkan globalisasi. Di era yang serba modern ini, kita tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari globalisasi. Tapi bagaimana kita menyikapinya tentu harus digaris bawahi. Kita harus tetap memegang teguh nilai Pancasila dalam hidup kita. Bukan hanya sekedar hafal tiap-tiap sila dari Pancasila. Tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita bisa mengamalkan Pancasila itu sendiri. Dulu setiap minggu pagi di gang rumahku, biasanya terlihat banyak bapak-bapak yang sedang sibuk membersihkan selokan atau sekedar mencabuti rumput liar yang tumbuh di tepian selokan. Tapi kini itu menjadi pemandangan yang sangat langkah. Lalu kenapakah sifat gotong royong itu pergi. Apakah ia mati ? coba tanyakan itu pada diri kita.

          Tak jarang aku menemui anak-anak muda yang justru lebih mencintai budaya luar daripada budayanya sendiri. Lebih mencintai bikini ketimbang kebaya. Begitu aku menganalogikannya. Bahkan aku kadang menemui anak muda yang justru cenderung membandingkan negara ini dengan negara luar. Aku kadang kesal dan ingin sekali mengatakan “hey kau. Kenapa tidak pindah saja sana ke negara yang terus kau puji itu.” Aku yang bodoh terlalu mencintai negeri ini atau mereka yang terlalu pintar untuk mengatakan aku bodoh karena kecintaan aku terhadap negeri ini. Entahlah. Tapi yang pasti negeri ini indah, jangan biarkan keindahan itu hilang hanya karena kita kaum muda yang terlalu sibuk menggandrungi trend busana masa kini. atau terlalu sibuk meneriaki artis Kpop yang mereka saya tidak mengenal kamu. Ya, tentu itu hak kalian. Tapi menjaga kesatuan dan kedaulatan negara ini adalah kewajiban kita. Khususnya kaum muda. Sesuai dengan nilai yang terkandung dalam Pancasila.

          Sebenarnya simpel untuk mengetahui berapa kadar kecintaan kita terhadapa negera ini. Ketika anda membaca tulisan ini. Pastikan anda menjawab pertanyaan berikut. “coba kau bacakan semua sila yang ada dalam pancasila” sebelum anda mencarinya di Google. Coba jawab saja sehafal anda. Ketika anda tidak menghafal Pancasila, itu adalah hal yang sangat wajib untuk direnungkan. Bagaimana tidak. Hal yang sangat mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara saja kita tidak hafal. Walaupun memang lebih mudah menghafal lirik lagu band luar negeri kebanding Pancasila. Marilah setidaknya kita mulai peduli dengan ideologi bangsa ini.

          Sejak kapan kita menjadi bangsa yang tidak memiliki tata keramah. Kenapa aku mengatakan demikian. Dulu ketika aku masih duduk di sekolah dasar, guruku selalu menceritakan tentang keramahan rakyat Indonesia. Tapi ketika aku tumbuh menjadi anak muda yang mulai menyadari jika tata keramah di Indonesia, yang sering sekali dituturkan oleh guruku. Hanyalah sebuah dongeng belaka. Setiap hari aku melihat betapa tak ramahnya kita. umpatan serta kata-kata kasar, selalu menghiasi hariku dimana pun. Di jalan, disaat seorang pejalan kaki yang menyeberang tanpa melihat kanan kiri, menjadi media untuk luapan emosi seorang supir angkot, anda mungkin perlu membawa kamus ’kumpulan kata kasar’ untuk menterjemahkan kata-kata kasar yang keluar dari mulut sang supir angkot.

          Kadang aku berpikir agak jauh kedepan. Saat Pancasila sudah benar-benar menjadi hal yang dilupakan, dan tidak lagi berarti bagi negara ini karena perilaku yang tak peduli dari kita kaum muda. Saat negara ini menjadikan bikini sebagai budayanya, serta lagu-lagu dari artis Kpop sebagai lagu kebangsaannya. Dan yang menjadi ketakutan terbesarku adalah, saat aku, kamu, serta kita semua menyaksikan dengan mata kepala sendiri, anak dan cucu kita berkata “Pancasila. Benda apa itu ?”

Jangan biarkan Pancasila hanya menjadi sebuah tulisan di bingkai kaca dalam kelas. tidak hanya hafal tapi mampu mengamalkannya.

Loike Tenggara
Tengerang. 08 juni 2014

Komentar

Postingan Populer