JANGAN SEBUT AKU PELACUR


Kembang sinar terbentuk kala pedar lampu belakang mobil itu menempel di kaca mobil Gladis kala hujan di malam hari. Puluhan atau mungkiin ratusan mobil berbaris tak terlihat ujungnya, ingar bingar klakson mobil serta suara air hujan yang menghantam atap mobil beradu berpadu, menciptakan ritme yang tak beraturan menusuk gendang telinga. ‘Anjiiiiiiiing’ satu kata itu keluar dari mulut Gladis sambil memukul lingkar kemudi mobilnya. ‘pake macet segala lagi’ kembali Gladis mengumam. Malam yang terlalu singkat untuk Gladis minggalkan kehidupannya.

Pagi jauh sebelum hujan, macet serta ingar bingar klakson beradu padu. Jam alarm membangunkan Gladis yang tergolek di atas kasur mewah dalam hotel berbintang. Gincu merah serta gaun malam mahal masih ia kenakan, tak sempat ia lepaskan semalam karena terlalu mabuk. Bagaimana tidak. Puluhan gelas alkohol ia tenggak bersama kejenuhannya terhadap hidup. Pukul 09:00. Gladis mencoba menghidupakan kembali semangatnya, kopi mocca menjadi teman setianya setiap pagi. Bunyi handphone terdengar, ‘Om Rusdi’ nama yang berkelip-kelip di layar handphone Gladis. ‘halooooo om’ nada genit kini keluar dari bibir Gladis. ‘kamu sudah bangun cantik’ sahut Om Rusdi. ‘udah dong, udah mandi juga malah. Coba om disini. Kita bisa mandi bareng om hahaha’ dengan nada yang lebih genit lagi Gladis menjawab. Ya, memang. Gladis adalah seorang pekerja seks komersial. Bukan sebuah pekerjaan yang di harapkan Gladis tentunya, atau bahkan semua wanita yang hidup di muka bumi.

Gladis bukanya tidak ingin mencoba untuk pekerjaan yang lebih layak dan hidup dengan normal. Sudah puluhan perusahaan ia coba datangi, ada beberapa yang menolak Gladis tapi ada juga yang menerima Gladis untuk bekerja sebagai sekertaris. Baru satu bulan berkerja ia harus di pecat karena menampar pipi direktur perusahaan tersebut. Direktur lebih suka melihat Gladis terlentang sambil terlanjang di meja kantor dalamruang direktur berhidung belang tersebut. Kebutuhan ekonomi serta desakan ibu yang meminta uang kiriman di kampung menjadi faktor yang membuat Gladis untuk tidak bisa memilih selain menjadi seorang pekerja seks komersial. ‘Lonteeeeee’ teriak seorang preman pasar saat melihat Gladis. Seketika hati Gladis bagai gelas kristal yang terjatuh ke lantai keramik. Segumpal demi segumpal emosi menumpuk. Siap untuk meledak. ‘Pelacuuuuur’ satu kata itu cukup untuk meledakan dada Gladis dan memuncratkan kegundahannya.

Kembali ke obrolan Gladis dengan Om Rusdi. Seorang duda kaya yang masih dipenuhi nafsu birahi. Sudah tiga bulan terakhir Gladis berhungan dengan Om Rusdi. Berawal dari pertemuannya di sebuah pesta pernikahan Nayla. Ya nama itu yang tertulis di kartu undangan yang ia dapatkan, Gladis bahkan tak mengenal siapa itu Nayla. Sebab yang mengenal Nayla adalah Ryan, pelanggan setia Gladis yang mengajaknya kemana saja, bahkan ke pesta pernikahan sekalipun. Om Rusdi yang juga kerabat keluarga Nayla pun datang ke acara itu. Diawali dari tabrakan kecil yang di sengaja oleh Om Rusdi berlanjut kesebuah percumbuan penuh nafsu birahi di toilet gedung pernikahan, dan tiga bulan pun berlalu dengan cepat, bagai angin laut yang mengembara lalu datang menerpa rambut Gladis yang panjang terurai, sinar matahari mentah jatuh di wajah Gladis yang manis dan menggoda, kemudian pergi lagi melalui sela lubang angin kamar Om Rusdi bersama desah lembut Gladis saat mereka menggeliat di atas kasur. ‘Om bulan depan kamu jadi kan ajak aku kerumah kamu, aku gak sabar loh untuk kejutannya’ kalimat yang keluar dari mulut Gladis sambil memegang erat handphonenya. ‘Oh iya tentu jadi dong, yasudah. Sampai ketemu bulan depan yah. Bye’ sahut Om Rusdi dengan suara beratnya. ‘Have fun for your holiday in euro’ kalimat itu penjadi penutup obrolan mereka.

Malam pun datang dengan cepat, sinar matahari matang yang jatuh ke wajah Gladis berganti warna gelap malam dengan taburan sedikit bintang di langit. Gincu merah serta parfum mahal pemberian Om Rusdi melekat di tubuh Gladis. Malam ini Gladis berencana untuk menghabiskan malam kesebuah tempat hiburan malam. Bukan untuk melacur atau mencari om-om baru. Melainkan hanya untuk melepas penat yang meretakan kepalanya. Dentuman suara musik menerpa telinga Gladis, kaki serta pinggul Gladis seolah bergerak dengan sendirinya, tanpa isyarat tanpa aba-aba, 30 menit lama ia menari di tengah kerumunan manusia yang mungkin juga ingin melepas penat. Sama seperti Gladis. Seketika dunia melambat, Gladis merasa begitu sepi. Rongga dalam dadanya kini bernanah. Kosong. Sudah terlalu lama ia tak mempercayai cinta. Gladis yang tak ingin menumpahkan kesedihannya lantas duduk dan memesan beberapa gelas minuman. Satu dua gelas ia tenggak, alkohol yang melewati kerongkongannya pun seolah membakar emosi yang menumpuk di dadanya. ‘boleh duduk disini?’ suara yang begitu lembut keluar dari mulut seorang pria berwajah teduh. Gladis hanya memandangi kosong pria tersebut. ‘hey’ pria tersebut mengayun-ayunkan tangannya di depan wajah Gladis yang terdiam dengan tatapan kosong. ‘oh iya. Boleh ko boleh. Lagian disini kosong ko’ dengan terbatah Gladis menjawab. ‘Andi’ sambil menyodorkan tangan, dengan maksud berkenalan. Pria berwajah teduh itu bernama Andi seorang anak pengusaha sukses yang menjalankan bisnisnya di luar negeri. Malam itu menjadi awal dari perkenalan Andi dengan Gladis.

Andi adalah awal dari apa yang paling diinginkan oleh Gladis. Cinta. Hari demi hari berganti bagai luruh bunga kamboja yang jatuh ke tanah dan terganti oleh kembang yang lainnya. Andi dan Gladis semakain intim setiap harinya, di taman sejuta kembang kala senja Andi dan Gladis menghabiskan waktu bersama. tak ada elegi, mereka berdua tertawa. Sebelum mengenal Andi. di mata Gladis hidup hanyalah sebuah jargon yang memberikan janji manis akan kebahagiaan. Namun semua berubah semenjak pria berwajah teduh itu datang. Andi. Dia memberikan warna merah dan biru dalam hidup Gladis yang hitam putih bahkan kelabu yang berbalut sembilu. Andi memeluk erat, memberikan hangat dengan dada bidangnya kepada Gladis. Belum lagi wajahnya yang teduh membuat Gladis tak ingin lepas darinya. ‘kamu yakin mau menerima aku apa adanya, kamu gak malu dengan keadaan aku ?’ dengan nada lirih Gladis mengucapkan pertanyaan itu. ‘jangan pernah memikirkan apa-apa, karena pertanyaan mengandung sebuah ketakuan. Aku akan menerima kamu apa adanya’ dengan mata yang berbinar serta senyum tipir yang meneduhkan Andi mencoba menyakinkan Gladis. Seketika cinta menyeruak keseluruh angkasa. Emosi dalam dada Gladis seolah muncrat tak tentu arah. Bukan emosi akan kebencian dia tentang masa lalu. Melaikan emosi kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Mereka pun menghabiskan waktu bersama, menghabiskan malam berdua. Mencoba meresapi sinar rembulan bulan yang masuk kedalam kamar melalui jendela. Serta angin malam yang mengeluh tubuh mereka berdua yang bermandikan peluh. Geliat serta desah Gladis menggantikan suara malam yang ringkih.

Hari menjadi seperti kapas yang melayang. Lambat namun indah jika di lihat. Hidup bagai luruh bunga kamboja di kala senja, bersama angin mereka menikmati lelahnya sang surya. Waktu berputar seperti tak takut pusing. Tak terasa Gladis dan Andi sudah 20 hari bersama. Singkat memang. Namun benih cinta yang kini telah berbunga itu seolah enggan untuk melahirkan sepi dalam Gladis kini. “kriiiiing” handphone Gladis berbunyi. “Hallooo” jawab Gladis sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. “ini aku Rusdi” kalimat itu seolah membuat dunia Gladis kembali berputar dengan cepat. Bunga cinta yang tumbuh di hatinya seketika layu. “hm oh Om Rusdi” dengan nada yang terbatah Gladis menjawab. “minggu depan aku pulang ke Indonesia, kamu siap kan untuk kejutannya” Sahut Rusdi. “iya Om” dengan tidak yakin Gladis menjawab. Sore datang dengan cepat, Gladis berbang dalam kamarnya. Langit-langit kamar seolah berbicara kepadanya, serta cahaya jingga yang kurang ajar melata di tubuh Gladis yang indah, seketika sebuah pertanyaan mengganjal di hati Gladis. Tentang apa yang harus ia lakukan. Om Rusdi adalah seseoran yang telah menyekolahkan 2 adik Gladis di kampung halamannya. Sedang Gladis sangat mencintai Andi. Menolak ajakan dari Rusdi adalah sebuah penghinaan besar terhadap kebaikan Rusdi. Sore masih menggerayangi Gladis. Air mata sebesar biji jagung jatuh dari sudut matanya. Sebuah cabuk berujung besi seolah menghantam dadanya.

Malamnya. Sebuah cahaya dari langit datang. Entah apa itu. Gladis mendekatinya. Sesosok malaikat datang dan mencoba menyetubuhi Gladis yang terbelalak terlanjang. Sontak ia terbangun dari tidurnya. Mimpi. Entah apa yang dipikirkan Gladis hingga mimpinya begitu aneh. Kepala Gladis retak malam itu karena terlalu banyak memikirkan hal yang ada dalam hidupnya. Ia mencoba untuk kembali pulas.

Seminggu berlalu. Gladis mengalami hidup yang sangat kosong, dimana ia mencoba menjauh dari Andi, tanpa sekalipun memberikan kabar tentangnya. Kelip nama “Om Rusdi” di handphone Gladis.
“iya om”
“kamu dimana ?”
“aku di apartement aku om”
“tuuuuttttt” telpon berakhir


     Jalanan panjang terlihat begitu lengang, tangan Rusdi yang memegang erat tangan Gladis di bawah kemudi seolah pertanda rindu yang sangat menggebu. “aku bakal kasih kamu kejutan yang spesial” nada yang sangat menyakinkan keluar dari mulut Rusdi. Dan hanya senyum datar yang Gladis lempar. Sebuah rumah besar nan indah berdiri. Dibawanya Gladis masuk kedalamnya. Berdiri seolah bocah kecil yang lucu di hadapan Gladis, “ini calon mamah aku pah ? cantik ya.” Celoteh bocah itu yang kegirangan. Ya, Rusdi berencana untuk mengenalkan Gladis dengan anak-anaknya, dengan maksud untuk menjadikan Gladis sebagai istrinya. Seketika dada Gladis berat, digelayuti sejuta pertanyaan yang menusuk gendang telingannya. Tak bisa berkata-kata pula lidahnya. “mana abangmu nak” dengan gelagat kebapaannya Rusdi menanyakan itu. “Abaaang, liat calon ibu kita sini” bocah kecil itu pun berlari. Seorang lelaki berwajah teduh pun terlihat dari balik pintu kamar yang memisahkan pria itu dengan dunia luar. Seribu panah datang menghujam Gladis, diam, mati, atau bunuh diri saja lebih baik. Bisikan itu datang mendarat ketelinga Gladis dari iblis yang ikut menyaksikan kejadian itu. “Andi” dengan nada tinggi Gladis menanyakan itu kepada pria berwajah teduhnya. “loh kalian saling kenal?” Rusdi menyelak pandangan Gladis dan Andi yang dipenuhi bunga cinta kala senja. “Andi adalah pria yang aku cintai om” dengan air mata yang hanpir jatuh Gladis mengatakan itu. Dalam hati Gladis ia berkata “Jangan sebut aku pelcur.”

Komentar

Postingan Populer