LAWAN, APA YANG KAU ANGGAP BODOH. (Senioritas Bentuk Kecil Kapitalisme)
OSPEK, tradisi apa itu ? tradisi dimana
aku dan banyak mahasiswa baru diperlakukan layaknya binatang. Tak ada kebebasan
sebagaimana manusia yang terlahir merdeka.
Aku dan banyak mahasiswa dipaksa berbaris dan mengiyakan semua perkataan
dari senior yang sok paling berkuasa. Bagaimana tidak sok paling berkuasa. Jas
almamater seakan menjadi simbol atas kekuasaan mereka yang menyekat jarak dan
menghasilkan sebuah istilah senior junior. Tradisi yang entah dari mana mulanya
dilakukan dalam awal perkuliahan. Dimana ospek menjadi ajang unjuk kekuasaan
seorang senior tiap tahunnya, dan setiap tahun akan menghasilkan sebuah dendam
turunan yang tidak tahu kapan akhirnya. Aku melihat teman-teman seangkatanku
yang begitu bernafsu untuk melakukan hal yang sama terhadap calon-calon
mahasiswa baru di tahun ajaran baru.
Saat ospek kami dipaksa bernyanyi dan menari
layaknya manusia bodoh. Bukankah ospek seharusnya menjadi ajang senior
mengayomi dan memperkenalkan sistem perkuliahan dan lingkungan kampus. Bukan
malah memperlakukan mahasiswa baru layaknya binatang yang bisa diatur
seenakanya dengan nada-nada yang tinggi. Aku melihat tawa puas seniorku saat ia
berhasil mengerjai salah satu mahasiswa baru. Apa itu yang disebut dengan
mengayomi ? aku tak begitu mengerti kenapa semua tradisi bodoh itu harus terus
dilakukan.
OSPEK.
aku menyebut itu tradisi bodoh, bagaimana tidak. Setiap tahun ada begitu banyak
perilaku bodoh yang dilakukan mahasiswa baru di setiap kampusnya. Ada yang
membuatku semakin geli dan jijik, dimana nama setiap makanan dan minuman yang
akan kami bawa di ubah namanya dengan nama-nama yang aneh. misalnya makanan
yang berisi nasi dan telur, diubah namanya menjadi ‘makanan penjahit’ penjahit =
taylor. Dan taylor = telur. Analogi yang sangat bodoh menurutku. Walau untuk
beberapa senior itu mungkin hanya sebuah hiburan. Atau memang sebuah niat yang
dipersiapkan senior untuk memperbodoh cara pikir junior-juniornya.
Awal
semester satu. Aku tidak ingin membahas tentang perkuliahan, melainkan tentang
senior yang berlomba untuk memberikan doktrin dengan berbagai cara. Tentang
baik dan buruknya pergaulan di kampus. Menurutku kami mahasiswa baru bukanlah
anak TK yang harus diajari tentang baik buruknya sebuah pergaulan. Seorang mahasiswa
sepertinya sudah cukup dewasa untuk mengerti tentang yang baik dan buruk dalam
hidupnya sendiri. Terlalu banyak pendapat
dan arahan dari senior yang tak jelas juga latar pergaulannya seperti apa.
Saranku janganlah menerima mentah-mentah pendapat atau arahan yang aku sebut
doktrin negatif dari senior. Seharusnya seorang mahasiswa bisa menarik
kesimpulannya sendiri.
Organisasi. Aku juga ingin membicarakan
organisasi. Banyak yang membenci organisasi khususnya mahasiswa apatis dan
idealis. Aku bukanlah mahasiswa yang apatis juga bukan mahasiwa idealis. Tapi aku
jujur tidak begitu suka dengan organisasi dan politik kampus. Yang menurutku
hanya diisi oleh orang dari golongan yang itu-itu saja setiap tahunnya. Dari
mereka yang menuhankan senioritas sampai kaum yang memandang mahasiswa lain
hanya dari tampilan luarnya saja. Terlalu dini untuk menentukan sifat manusia
hanya dari tampilan luarnya saja. Itu menurutku.
Memasuki
pertengahan semester perkuliahan. Kembali aku tak ingin menjabarkan tentang
perkuliahanku. Melainkan tentang sebuah acara yang angkatanku selenggarakan. Orange Day adalah sebuah acara untuk
memperingati hari jadi Fakultas kami dan wajib diselenggarakan oleh mahasiswa
baru dalam Fakultas Ilmu Komunikasi. Aku melihat banyak senior non organisasi
yang datang dan memuji acara kami. Yang
menjadi pertanyaan besarku adalah kemana para senior yang tergabung dalam
organisasi kampus. Hanya sedikit senior yang tergabung dalam organisasi hadir
dan aku lihat bergabung bersama kami untuk menikmati malam ulang tahun
Fakultas. Sudah tak hadir dalam acara tersebut malah justru kritikan yang
kami terima melalui media sosial seperti twitter
oleh mereka senior-senior yang tergabung
dalam organisasi kampus. Aku tentu tidak ingin menyebutkan siapa dia atau
mereka. Mereka hanya manusia yang penuh iri. Menurutku.
Satu
tahun berlalu. Kini aku akan menjadi seorang senior yang aku tak pernah sukai
istilah tersebut. Senior sebuah lebel yang menurutku cukup berat. Bagaimana tidak.
Ya, setidaknya aku akan menjadi contoh bagi mahasiswa baru nantinya. Dan kini
aku mencoba untuk masuk kedalam organisasi kampus. Silahkan anda bilang aku
adalah seorang penjilat. Menurutku bagaimana kita bisa merubah sesuatu jika
kita tidak terlibat didalamnya. Memang dari
awal aku jelas menyatakan ketidaksukaanku terhadap organisasi kampus. Namun
setelah aku berpikir, justru hal itu lah yang membuat hal bodoh seperti ospek
akan terus berlangsung. Keapatisan orang-orang seperti akulah yang membuat hal
bodoh terus berlangsung. Kadang kita perlu menjadi hina untuk terlihat bersih.
Aku menganalogikan bahwa aku kini cukup hina untuk mendapatkan pujian. Aku akan
terima kritikan itu, tapi aku hanya ingin merubah apa yang aku anggap tidak
benar. Lawan apa yang kalian anggap bodoh. Caranya dengan terlibat langsung
didalamnya. Karena bila kalian hanya berharap membersihakan noda tanpa
melakukan apa-apa, tentu noda tersebut tidak akan pernah bersih.
Semoga
semakin banyak mahasiswa yang mulai berpikir kritis dan bisa menyingkirkan ego
untuk bisa menunjukan kekuasaannya dengan lebel seorang ‘senior’. Seorang
senior adalah seorang yang bisa mengayomi juniornya. Tentu bukan melulu dengan
cara yang normatif terus menerus. Karena hal yang normatif menurutku hanyalah
hal yang sangat membosankan. Perlu sesuatu yang gila dan cenderung kearah
kreatif untuk bisa merangkul junior. Yang tentu menyukai juga cara itu pula.
Bila junior tersebut tidak menyukai cara itu. Ya, bukan dengan cara dipaksa,
tetapi biarkan saja ia melakukan apa yang ia suka. Bukan memaksakan kehendak
dengan menanamkan doktri bahwa A adalah A. Biarkan mereka sendiri yang
menentukan apa yang mereka suka tanpa ada tekanan dan sekat yang
mengkotak-kotakan. Karena senioritas adalah bentuk kecil kapitalisme
Diakhir
opini aku akan tetap melanjutkan apa yang anggap aku benar. Dengan ideologi
yang aku pegang sendiri dalam hidupku. Tentu aku juga akan menerima kritikan
yang masuk sebagai bahan pembelajaran. Namun prinsip itu harus ada. Aku selalu
berkata. “suntiklah aku dengan ideologimu hingga kau bosan dan pergi dengan
sendirinya, sedangkan aku akan tetap berfikir dengan ideologiku sendiri.”
“Masih terlalu banyak mahasiswa yang
bermental sok kuasa. Merintih kalau ditekan. Tetapi menindas kalau berkuasa. Mementingkan
golongan. Ormas, teman seideologi dan lain-lain. Setiap tahun datang adik-adik
saya dari sekolah menengah. Mereka akan menjadi korban baru untuk ditipu oleh
tokoh-tokoh mahasiswa semacam tadi.” –Soe Hok Gie-
Tangerang
00:05
Komentar
Posting Komentar