AKU DAN TOPLES TUA SONYA
Hay,
perkenalkan namaku Banyu Biru. Jangan pernah tanyakan kenapa namaku Banyu Biru.
Karena aku pun tidak pernah tau kenapa namaku begitu. Banyu berarti air.
Padahalah sifatku jauh dari tenang yang idientik dengan air. Namun bukan itu
yang aku ingin ceritakan kepada kamu. Bukan tentang Banyu atau tentang Biru
apalagi tentang nama Banyu Biru. Aku ingin menceritakan tentang sebuah toples
kaca dalam kepalaku. Iya, toples yang biasa digunakan para ibu menyimpan kue
untuk hari raya. Sudah lama aku menyadari ada sebuah toples dalam kepalaku.
Toples ini bukan berisi kue yang seperti kau bayangkan. Melaikan toples yang
berisikan ratusan, ribuan bahkan jutaan kata. Entah darimana toples itu datang.
Dan siapa yang menaruhnya pun aku tak tahu siapa. Yag pasti toples ini
menyimpan semua perkataan dari manusia-manusia disekitarku. Tentang apa saja.
Bahkan saat penuh, toples itu mengeluarkan kata-kata yang kemudian mengalir
kemulutku. Terkadang adapula kata yang keluar dari lubang hidungku karena toples
itu tak mampu lagi menyimpan kata dari manusia disekitarku.
Namanya
Sonya. Seorang wanita tua yang tinggal diujung jalan dekat rumahku berdiam.
Sonya adalah si tua yang suka mengumpat. Toplesku mungkin berisi setengah
kata-kata dari umpatan yang keluar dari mulutnya. Setiap sore Sonya selalu
duduk di sebuah taman yang dekat pula dari rumah kami. Dia sering mengumpati
siapa saja yang lewat. Setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu masuk
kedalam toples di kepalaku. Kadang ingin aku pecahkan toples itu, namun setiap
kali aku ingin melakukan itu, sebuah lolong kesedihan seolah mencambuki aku.
Aku tidak pernah mengerti kenapa itu terjadi. Namun setiap kali aku melihat
Sonya tua yang sedih, toples dalam kepalaku seolah bergetar mengigil dingin.
Ada apa antara toplesku dengan Sonya tua si pemarah itu ? pertanyaan itu pula
yang membuat aku mencari tahu.
Disebuah
sore yang mataharinya sudah terlalu matang. Seperti biasanya Sonya datang
ketaman. Taman pemurung namanya. Karena setiap manusia yang datang kesana melipat
dalam-dalam wajahnya. Aku melihat Sonya memasang wajahnya yang murung. Aku tak
tahu persis apa yang ia murungkan. Aku duduk tak jauh dari sana sambil
mengamati setiap gerak-gerik si wanita tua pemarah itu. Toplesku bergetar. Kala
linang air mata jatuh di ujung mata wanita tua itu. Pertanyaanku semakin
membesar ada apa antara toplesku dan Sonya si wanita tua yang pemarah itu. Ada
beberapa pemuda ringkih dengan wajah yang sedih menyeret kakinya yang lemah
untuk melangkah, tepat lewat didepan Sonya. Sonya menyeka air matanya kemudian
mengeluarkan umpatan kepada pemuda-pemuda itu. “Dasar lelaki lemah !”. seketika
itu pula tomplesku menangkap umpatan itu. Seolah ingin menangkap kesedihan yang
terbalut oleh umpatan yang keluar dari mulut si wanita tua itu.
Hari
mulai gelap. Aku memberanikan diri untuk mengajak wanita tua itu berbicara. Aku
tak pikirkan lagi umpatan atau cacian yang akan aku terima darinya. Yang aku
ingin tahu hanyalah, ada apa antara dia dengan toples kaca dalam kepalaku ini.
“Boleh aku ...” belum sempat aku menyelesaikan kalimat itu nada sinis keluar
dari mulut si wanita tua itu “Tidak !” “Kenapa ? bukankah ini tempat umum”
pemilihan kata yang tak tepat dariku. “Tempat itu untuk satu orang yang aku
tunggu” sahut Sonya. “Aku hanya sebentar dan tidak akan lama” aku mencoba
meyakinkan. “Sudah lama dia tak datang, dia si pembuat toples, dari negeri yang
jauh” bukan terdengar untuk menyahuti aku namun terdengar seperti curahan hati
seorang wanita tua yang pemarah. “Siapa dia ?” lagi, pemilihan kata yang tak
tepat aku rasa. “Apa pedulimu ?” Sonya menjawab dengan nada yang sedikit naik.
Marah. “Hmm, bukan. Kau tadi sempat bilang bahwa kau menunggu seorang pembuat
toples, aku hanya ingin tahu tentang toples-toples itu” semakin berani aku
berbicara dengan Sonya. “Sssssttt. Jangan pernah kau menanyakan tentang toples
itu” dengan sedikit membungkuk dia mencoba berbisik. “toples itu akan dipenuhi
kata umpatan, dan ketika tak lagi kuat menampung semua kata, maka si empunya
toples akan mengeluarkan kata-kata umpatan yang ditampung oleh toples-toples
itu” seketika aku tersentak mendengar penjelasan dari wanita tua itu. Kenapa
dia tahu tentang toples-toples itu. Tanyaku semakin membesar disana, hingga
memenuhi taman pemurung itu. “Aku punya satu toples dikepalaku” aku mencoba
meyakinkan Sonya. “Hahahahaha, kau sudah gila” desis Sonya. “Toples itu sudah
lama sekali hilang, hingga tak ada satu manusia pun yang tahu” kembali ia
bergumam. “Tapi aku benar-benar punya !” dengan nada yang tinggi aku mencoba
menyakinkan. Sonya hanya terdiam melihat mataku seolah ingin melihat apa yang
ada didalam kepalaku. Seketika air mata seolah ingin muncrat dari sudut
matanya.
Siang
itu saat daun-daun pohon oak luruh jatuh ke tanah, Sonya terlihat masih sangat
muda dan cantik tengah berjalan di tengah luruhnya daun oak bersama seorang
pria berparas teduh. “Aku sangat mencintai kamu” Sonya menyampaikan kalimat itu
pada seorang pria yang bersamanya. Pria berwajah teduh itu hanya tersenyum,
lalu memeluk tubuh Sonya yang kala itu masih terlihat bentuk keindahannya.
Mereka menghabiskan waktu siang, sore dan malam dan malam dan malam dan ....
entahlah, terlalu banyak malam yang mereka lewati. Hingga satu senja di sebuah
taman riang, dimana setiap manusia yang datang ke taman itu memiliki senyum
yang lebar, Sonya dan Pria itu menghabiskan senja mereka dengan berbincang.
Pria itu mengeluarkan sebuah kotak yang dibungkus oleh kain sutra bermotif
kaca-kaca yang melingkar bundar. “Aku akan memberikan ini kepadamu” Pria
berwajah teduh itu memberikan kotak itu. Sonya hanya tersenyum sambil menerima
kotak itu. “Buka. Kotak ini berisi sebuah toples yang aku buat dengan cintaku,
toples yang akan berisikan mimpi-mimpi kita dimasa depan, toples yang akan
berisi banyak kata cinta yang mungkin aku tak bisa sampaikan langsung kepadamu”
Pria berwajah teduh itu sangat menyakinkan Sonya. Dengan sangat berbunga Sonya
lekas membuka kotak itu dan mendapati sebuah toples yang tertutup rapat dan
berisi sedikit air berwarna biru. Sonya membuka toples itu. Kemudian langit
seketika menghitam. Pekat. Sangat pekat seolah dewa langit mengutuk sebuah
perkataan yang tak tulus dari seorang Pria berwajah teduh itu, kilat menyambar.
Pria berwajah teduh rupanya telah menjalani hubungan lain dengan wanita lain
dan tak sepenuhnya mencintai Sonya. Begitu angin berbisik dan mengatakan semua
kepada Sonya. Air mata jatuh kedalam toples itu. Sonya pergi dan meninggalkan
Pria berwajah teduh itu dengan toples yang ia lempar. Pria itu hilang. Begitu
juga dengan toplesnya. Kemudian jerit tangis bayi laki-laki terdengar. Taman
itu berubah menjadi murung. Lolong kesedihan tersimpan dalam setiap pohon-pohon
yang berdiri di dalamnya.
Tersontak
aku melihat apa yang aku lihat didalam mata Sonya si wanita tua yang duduk
didepanku dalam taman pemurung. Aku memeluknya. Dia tersenyum. “Aku telah
menyimpan apa yang seharusnya aku simpan, dendam. Sebuah virus yang paling
mematikan, aku tak pernah bisa memaafkan, hingga sebuah merasakan kesedihan”
kalimat yang keluar dari mulut Sonya dengan nada ringkih. “Aku memaafkanmu !”
dihadapkan wajahnya kepada langit. Seketika langit seolah menari membentuk
sebuah garis panjang yang melintang dari langit tepat kearah kepalaku. Kemudian
menarik isi kelapaku dan mengeluarkan toples yang sudah lama tinggal
didalamnya. Langit kembali tenang sekenaan dengan keluarnya toples dari dalam
kepalaku. Sonya tersenyum sambil membuka toples itu, tawa dan kesenangan yang
ia miliki seolah keluar dari toples itu dan membunuh semua kesedihan yang
terpendam dalam setiap pohon-pohon dalam taman pemurung. Sinar terang keluar
dari toples tersebut. Sangat terang hingga aku tak bisa melihat apa-apa.
Kemudian cahaya itu hilang. Sonya hilang lolong kesedihan di taman itu hilang.
Aku hanya mendapati sebuah toples kosong yang terjatuh dan sedikit bergoyang.
Sonya pun bahagia
setelah dendam itu dilepasnya. Dan toples itu pun kini selalu menampung banyak
tawa dari manusia yang berada di taman riang.
Loike Tenggara
23.22
Komentar
Posting Komentar