ANWAR & GLADIS (PART I)

ANWAR & GLADIS (PART I)

Di ujung petang yang mataharinya sudah terlalu matang, bulan yang mentah bersembunyi menunggu matahari tidur. Disebuah bibir pantai yang panjang dengan pasir berwarna putih gading. Anwar berlarian mengejar cahaya yang remang dari matahari yang sudah terlalu matang. Cahayanya jingga kekuning-kuningan, perlahan berjalan pulang keperaduannya, sedangkan bulan yang masih mentah menunggu untuk ditemukan. Anwar terus berlari mengejar cahaya yang perlahan hilang. Kaki terus menapaki pasir dengan cepat terlalu cepat sangat cepat bahkan terlihat bagai tak menapak, mungkin bila tak berujung pada air Anwar akan terbang ke awan putih bercorak jingga, hasil perkawinan dengan matahari senja. Senja hilang berganti malam kelam, dimana Anwar tertegun menatap langit. Putus asa karena tak berhasil mendapat cahaya dari matahari yang sudah terlalu matang tadi. Lalu sedikit senyum terlihat diwajah yang lelah, peluh seketika mengkilat hasil pantulan cahaya bulan setengah matang. Malam itu bulan hanya setengah. Belum matang.

Bermandikan cahaya bulan setengah matang Anwar tertawa, mula-mula hanya tersenyum lalu lubang mulutnya menganga lebar, lebih lebar lalu mengeluarkan tawa yang sangat lepas. Kemudian. “Mengapa aku harus mengejar yang pergi jika yang datang lebih indah !” kalimat itu keluar dari mulut Anwar dengan desis yang sinis. Berbaring ia di atas pasir berwarna putih gading. Tertawa. Anwar masih tertawa dengan hela yang terengah-engah kadang tersendak lalu nyaring lagi tawa. Tapi ringkih nadanya kali ini. Seketika air mata keluar dari sela kelopak mata sayup penuh beban bak kesedihan bertumpuk begitu banyak hingga sayup. Terlalu sayup bahkan kelopak mata bisa saling berbicara satu sama lain karena terlalu dekat. “Mati kau ! mati kau bajingan cantik pengikat nafsu ! lebih baik kau yang mati” gumam Anwar dengan nada yang ringkih.

***

Pagi datang sinarnya merambat pelan di sela-selan lubang angin yang berdebu. Angin pagi yang telah mengelana jauh datang masuk ke ruang kamar yang penuh dengan cangkang-cangkang kerang kosong bercorak indah. Angin mengelus lembut seakan ingin mencumbui tubuh Anwar yang kekar agak legam terbakar matahari matang siang hari. Mata Anwar terbuka. Tubuhnya mengeliat seperti ulat, merengkangkan otot yang lelah. Helaan nafas panjang keluar dari dua bibir yang terbuka lebar seakan mengeluarkan semua kelelahan dari hidup. “Sssrtttttt” suara kain korden yang dibuka. Anwar menatap keluar jauh dari jendela, menerawang pagi mendahului angin, menembus debur ombak yang tak jauh dari jendela rumahnya. “Indah sekali pagi ini Tuhan” nada syukur itu keluar dari mulut yang tersenyum. Anwar pun berdiri merapihkan tempat peraduannya, melipati kain sutra lembut pemberian Gladis wanita cantik anak penganyam tikar dari daun nyiur. Sesekali ia menciumi kain itu lalu senyum tergambar diwajah Anwar. Matahari sudah matang. Meninggi. Mengambang di langit. Sinarnya terasa menyengat di kulit.

Anwar keluar dengan membawa papan surfing bergambar pohon nyiur tua pemberian orang tuanya. Orang tua Anwar telah lama meninggal. Pagi itu saat mentari masih terlalu mentah dan bulan sudah terlalu matang. Asmudi dan Juminan sepasang nelayang yang juga orang  tua Anwar pergi mengarungi laut untuk menangkap banyak ikan. “Nak Bapa sama Ibu pergi dulu ya, jaga diri baik-baik” kalimat terakhir yang didengar Anwar pagi itu, hingga matahari dan bulan akan bergantian tempat orang tua Anwar tak kunjung datang untuk pulang. Anwar menjadi seorang yang pendiam mulai saat itu. Kembali ke pagi yang cerah. Anwar berlari menuju ombak yang bergulungan dengan papan surfing. Menembus dan mencoba menaklukan ombak yang masih terbilang jinak. Biru laut yang memantulkan bias-bias matahari matang serta angin pengelana lembut mengelusi tubuh kekar Anwar. Lelah. Anwar lelah setelah 2x60 menit menjinakan ombak yang jinak. Anwar terduduk di pasir berwarna putih gading. “Ini diminum dulu es kelapa mudanya” gumam suara lembut yang memanjakan telinga keluar dari ,dua bibir tipis yang terbuka milik Gladis. Dengan menelan ludah sambil menatapi wajah putih yang merona milik Gladis, Anwar tertegun seakan melihat sesuatu yang sangat indah. “Iya terima kasih” sahut dengan wajah yang kikuk dari Anwar.

Siang itu Anwar dan Gladis masih berdua duduk di atas pasir berwarna putih gading. Matahari matang tertutup awan yang diseret angin pengelanan. “Enak ya disini, indah dan nyaman. Seperti di surga” kalimat dengan nada yang lembut kembali keluar dari dua bibir tipis yang terbuka milik Gladis. “Memang, kamu pernah ke surga ?” jawab Anwar sambil tersenyum kecil arah Gladis. “Pernah” sahut Gladis dengan bibir tipis yang tersenyun dan wajah yang memandang kelautan. “Oh iya. Dimana?” Anwar menjawab dengan nada yang penasaran, tubuh Anwar bergeser mendekat. “Disini” wajah Gladis menoleh seketika kearah Anwar. Wajah mereka bertemu beradu tatap dengan dalam. Sinar matahari yang sudah terlalu matang pun jatuh ke tubuh Anwar dan Gladis seolah memandikan mereka dalam jingganya cahaya. “Surga adalah tempat dimana kita bisa bersama dengan orang yang kita cintai dan kita kasihi selamanya tanpa takut akan kesepian karena malam datang membawa pisau belati, kita tidak tahu wujud Tuhan seperti apa, tapi aku bersyukur ia memberikan cinta kepadaku” kalimat yang cukup panjang keluar dari mulut Gladis sambil membenarkan posisi duduknya dan menarik wajahnya yang sepat bertemu dengan wajah Anwar. “Aku juga. Awalnya aku mengira Tuhan adalah sosok jahat yang telah membawa pergi kedua orang tua yang begitu aku cintai, tapi aku sadar kini, ia telah mempersiakan sesuatu yang lebih indah dari itu. Aku mau kamu terus menemani senjaku.” Entah dari mana Anwar mempelajari kalimat itu, yang pasti kalimat itu membuat Gladis kembali menarik wajahnya untuk memandangi wajah Anwar. Mereka berdua pun hanyut dalam senja obrolan antara mereka, matahari yang sudah terlalu matang, angin pengelana serta deburan ombak yang ikut menggebu.

Malam datang matahari yang sudah terlalu matang digantikan bulan yang masih mentah. Gladis berdiri. “Aku pulang dulu, ada beberapa tikar yang harus aku anyam kembali” Anwar hanya tersenyum memandangi Gladis yang berjalan pulang. Punggung Gladis bisu tak bersuara Anwar hanya memandangi punggung itu yang mulai menjauh dan terus menjauh Anwar terus memandanginya sambil tersenyum, punggung itu hilang di sela pohon nyiur, hilan ada, hilang ada lalu hilang total di rimbunnya pohon nyiur. Anwar pun melangkah pulang dengan membawa papan surfing yang selalu setia. Kembali ke rumah yang sudah tua di dekat bibir pantai dengan pasir berwarna putih gading. Berbaring. Anwar berbaring di atas kasur sambil menatapi langit-langit rumah yang agak kusam. Khayal Anwar malam itu meninggi sanggat tinggi bahkan terlalu tinggi hingga Anwar tak tau harus menapaki kaki dimana, dia mengambang jauh ke alam imajinasinya, dimana tak ada yang lain hanya Anwar dan Gladis si anak pengayam tikar daun nyiur itu sajalah. Mereka berlarian di alam yang begitu indah, berlarian mengejar cahaya matahari yang sudah terlalu matang. Anwar tertawa Gladis juga. Mereka berpelukan. Hangat. Mereka hanyut dalam geliat yang menggetarkan ubun-ubun. Anwar pun tertidur. Alam itu hilang. Hanya senyum dibibir Anwar yang membawa dia tidur.

Pagi kembali. Awan hitam mendung kelabu menyelimuti matahari yang masih malas, baru terbangun dari peraduannya. Butir-butir kencing awan turun mensetubuhi bumi yang diam, ombak yang tak jauh dari jendela rumah Anwar meraung mendesah diperkosa angin. Marah. Angin dan langit bersengkongkol membuat kegaduhan, kilat-kilat cahaya bernama petir menjilat-jilat angin, Anwar terhentak. Terbangun dari alam yang begitu indah semalam. Teriak petir dan angin serta desah ombak yang membuat kegaduhan seolah menyentil gendang telinga Anwar membangunkan ia yang terpulas tidur. Badai datang tak bilang-bilang tanpa peringatan, seketika rumah Anwar yang rapuh seolah bergoyang ingin terbang. Anwar berlari keluar dari kamar menuju ruang tamu yang hanya berbatas sekat triplek. Merapihkan kerang kerang kosong yang cantik setelah dipulas dengan cat berwarna-warni. “Kerang ini mungkin kosong namun selalu mengisi pundi-pundi uang penyambung nyawaku” gumam Anwar berbicara sendiri atau mungkin berbicara dengan setan yang tak terlihat. “Setan !” kata itu keluar seolah menghujat setan yang tak terlihat tadi. “Bola kristalku pecah” gerutu Anwar sendiri dalam rumah. Bola kristal yang sangat berharga pemberian Gladis itu pecah. Bola kristal berisi boneka manusia salju yang diam dan luruh salju yang turun saat bola digoyang itu kini tak ada lagi. Siang itu saat matahari sudah cukup matang Gladis datang dengan membawa kotak dengan hias-hias kertas yang begitu indah. Anwar sedang membenahi kerang-kerang kosong yang cantik tapi tak secantik Gladis. Dengan teliti Anwar merapihkan satu demi satu kerang kosong yang cantik tadi didalam kotak kaca yang mengarah kelepas pantai berpasir berwarna putih gading dan mengharap satu, dua tiga hingga banyak turis yang datang untuk membeli. Dari sela dua kaca yang terpisah tak bertempuk menghasilkan ruang yang lumayan banyak saraut wajah cantik, putih tak pucat bahwan merona didapati Anwar.

“Hey Anwar” sapa dengan geliat gadis genit keluar dari dua bibir tipis Gladis yang terbuka. “Eh aku kira siapa” sahut dengan nada dingin sambil fokus merapihkan kerang-kerang kosong yang berlum tersusun rapih keluar dari mulut Anwar. “Ini buat kamu” Gladis menyodorkan kotak yang berhias kertas-kertas cantik. “Ini apa ?” sahut Anwar. “Buka aja” dengan senyum Gladis menyuruh Anwar membuka kotak tersebut. Senyum tersungking diraut Anwar. Ia mendapati bola kristal berisi boneka manusia salju dengan luruh butir-butir salju yang melayang ketika ia menggoyangkan bola tersebut. “Ini dalam rangka apa ?” ujar Anwar dengan nada heran. “Gak dalam rangka apa-apa’ menggeleng “Aku cuma pengen aja liat kamu senyum” ujar Gladis dengan senyum tipisnya. Anwar pun meletakan bola kristal itu dalam kotak kacanya.

Siang datang, awan hitam pergi diseret angin pengelana matahari matang mengintip malu. Anwar terdiam melihat serpihan-serpihan bola kristal pemberian Gladis yang berserakan terpisah menjadi bagian-bagian kecil. Hanya senyum kosong boneka manusia salju saja yang masih utuh. Sedih terukir rapih diwajah Anwar. Mengkerut. Kening Anwar berkerut. Kulit di kening Anwar melipat-lipat agak kusut diikuti juga dengan raut Anwar yang semberaut. Anwar pun memunguti satu demi satu serpihan setiap luruh-luruh salju kemudian memasukannya dalam kaleng biskuit bekas hari raya tahun kemarin. Anwar terduduk badai memang sudah pergi namun otak dan hati bagai diserang badai tropis yang ganas. “Bagaimana kalo Gladis tahu” gumam Anwar. Anwar memang sangat mencintai Gladis, terlalu bahkan. Bagaimana tidak bola kristal yang pecah saja menghasilkan badai yang hebat diotak Anwar. Mungkin bila itu bukan pemberian Gladis, Anwar kini tertawa. Anwar pun keluar mencoba meredam badai yang betkecamuk diotak dan hatinya. Kali ini tidak untuk surfing melaikan hanya untuk sekedar duduk sambil menatapi ombak sisa badai.

Tak jauh Anwar melihat raut yang begitu indah, pesona nirwana, bibir tipis, kulit lembut selembut sutra tenunan pengrajin cina. Raut itu datang dari baling rimbun pohon nyiur, raut itu hilang dibalik pohon nyiur, ada hilang ada hilang lalu muncul dengan senyum kearah Anwar. Anwar tertegun diam. Senyum Gladis selalu membawa sihir magis yang dahsyat bak menyihir siapa saja yang melihatnya. Gladis melambai girang seperti anak kecil yang baru saja dibelikan permen kapas oleh ibu dipasar malam. Anwar hanya membalas dengan senyum yang kikuk. Mungkin takut akan ditanyai bola kristal yang pecah itu. Gladis pun mendekat. “Kamu cantik banget hari ini” ujar Anwar yang terkagum melihat Gladis. Gladis membalas dengan senyum “Oh iya aku besok mau pergi ke kota” kalimat itu keluar dari mulut Gladis sambil memandangi ombak. Tak menatap Anwar. Anwar langsung menoleh ke arah Gladis seolah ingin menyerang Gladis dengan berbagai pertanyaan. “Ya aku akan dijodohkan dengan seorang tuan tanah disana, aku tidak akan lelah mengayam daun nyiur lagi semalaman” dengan senyum Gladis mengeluarkan kalima itu. Seketika badai berkecamuk dihati Anwar. Diam tapi gelisah. Kepala Anwar bagai ingin pecah, telinganya bagai ingin berdarah mendengar kalimat itu. “Kamu akan dijodohkan” pertanyaan bodoh pun keluar dari mulut Anwar. “Iya” Gladis menganguk bagai gadis kecil yang polos. Anwar berdiri seolah ingin berteriak, perutnya seakan ingin mengeluarkan sesuatu. Lidahnya kaku menelan kata-kata yang tersangkut dalam tenggorokannya. “Jadi selama ini kamu anggap aku itu apa, selama ini kita jalani semua bersama. Aku mencintaimu Gladis” Gladis tersentak entah kaget atau geli mendengarnya. Gladis menarik wajahnya kearah Anwar. “Aku mencintaimu Anwar, aku mencintai kamu sudah seperti kakak ku sendiri” seketika dunia melambat ombak membeku angin diam dengan sendirinya. Pohon nyiur merunduk seolah sedih. Waktu seolah begitu lambat berputar. Anwar merasakan tiap detik yang begitu lambat siang itu.

Anwar terdiam. Diamnya diam yang gelisah, sedih, marah serta takut teraduk dengan sempurna mengeras menjadi kebencian yang begitu keras. Warnanya legam besi tak ada corak tak ada pola, hanya kusut dan tak beraturan yang seliweran dibenak Anwar siang itu. “Yasudah. Semoga kamu bahagia” dengan nada yang bergetar, gigi yang saling mengatup Anwar melontarkan kalimat itu. “Emmm aku pulang dulu” kalimat penutup dari Anwar. Punggung Anwar bagai berbicara ‘Setan kau Gladis’. Anwar menyeret kakinya melangkah untuk pulang. Gladis hanya menunduk bagai ditimpa rasa yang begitu berat begitu aneh begitu kusut tak berpola. Siang itu mendung. Angin diam, ombak membeku, dunia begitu lamban dimata Anwar yang menyeret kakinya untuk pulang. Pelik semua begitu pelik cinta yang begitu tulus dari Anwar hanya dianggapa cinta seorang kakak kepada adiknya. Bajingan mungkin itu kata yang hendak diutarakan Anwar. Kebencian akan cinta seolah menjadi takdir. Bagaimana tidak. Cinta seolah tak pernah bersahabat untuk Anwar.

Siang yang mataharinya matang berganti dengan senja. Senja yang seharusnya jingga kini kelam. Hitam legam berwarna besi dimata Anwar. Dia terduduk diatas pasir hitam berwarna besi. Tak lagi putih berwarna gading. Anwar berlari entah karena apa. Seolah mengejar angin pengelana yang begitu cepat. Langkah Anwar begitu cepat sangat cepat bahkan terlalu cepat mungkin bila tak berujung pada air Anwar akan terbang ke awan kelam tak lagi jingga. Hasil perkawinan matahari kelam berwarna legam besi. Anwar berlari mengejar remang cahaya matahari legam tak lagi jingga yang pelan berjalan menuju peraduannya. Di ujung petang yang matahari busuk kelam tak lagi jingga.


Tangerang, 25 April 2014

22.15 WIB

Komentar

Postingan Populer