Ruang 4x4


Ruang 4x4
 
Malam datang. Kami terlentang dalam ruang 4x4, ada enam orang di dalamnya. Kami tiga pasang. Dua diantaranya adalah pasangan yang sesungguhnya dan sedangkan yang satu pasang adalah dua manusia yang tak saling kenal. Di ruang 4x4 itu kami berdiskusi tentang banyak hal. Dari film hingga hubungan seks. Sesekali tawa kosong keluar dari mulut kami, sedangkan tembok hanya menatap kaku beku tak perduli.

Malam yang larut pun tiba. Aku memutuskan keluar dari diskusi. Mengasingkan diri disudut ruang 4x4 tersebut. Duduk bersandar sambil asik dengan imajinasiku sendiri. Kemudian aku mengambil lakon sebagai si diam, kadang berubah lakon menjadi si pengamat. Obrolan mereka. Bukan lagi kami karena aku memutuskan keluar dari obrolan dan diskusi. Membicarakan tentang apa yang bisa membuat mereka tertawa. Padahal kosong.

Entah nafsu atau memang budaya, mereka menutupi diri dengan selimut biru. Dua pasang saling mengeliat. Aku pun tak tau apa mereka mengeliatkan. Mereka berkumpul menjadi satu, selimut biru menjadi alas atas nafsu yang berderu. Selesai. Mereka mentertawakan diri mereka sendiri. Ruang 4x4 itu tetap diam. Denting air keran yang menetes serta bisik angin malam yang datang dari sela lubang ventilasi seolah berdesir nyinyir.

Aku tidak pernah menyebut diriku suci. Tapi aku pun sedikit risih menyaksikan kenajinasan tersebut. Ruang 4x4 itu mungkin ingin muntah jika bisa bicara. Atau selimut biru itu. Mungkin dia ingin meludahi setiap mereka yang begitu najis. Entahlah kedengkian dengan rasa iri itu tipis bedanya.

Atau mungkin kondom-kondom itu. Mereka seperti ingin bicara, aku sempat mendengar bisik dari salah satu kondom kepada kondom lain. “Aku muak” “Aku benci melakukan kenajisan ini” apa daya, kondom mati bermandikan sperma yang berwarna putih polos itu. Kadang aku berpikir keras. Benarkah ini kesenangan kaum muda di ibu kota ? atau ini kah yang disebut dengan life style. tak aku tampik jika memang aku pernah juga merasakan itu semua. Tapi tidak sampai separah itu aku rasa. Nikmat memang, bahagia jelas. Tapi ada penyesalan setelahnya aku kira.

Ruang 4x4 itu masih diam. Kini hari berganti. Entah ada berapa perzinahan terjadi disini, walau aku tak melihat semuanya secara langsung, namun tembok diam seolah mengambarkan jelas tentang apa yang ia lihat. Ia menggambarkan tentang banyak kenajisan disana. Tentang kebahagian sesaat yang penuh kemunafikan. Tergambar jelas di wajah tembok yang diam tersebut.

Benarkah kita beragama ? atau hanya aku sendiri disini yang mempertanyakan Tuhan itu ada atau tidak, pernah aku mendengar sebuah pernyataan “Tuhan ada karena manusia atau Manusia ada karena Tuhan. Jika benar mereka percaya Tuhan, apakah perilaku mereka mencerminkan kepercayaan itu ? atau memang otakku saja yang salah karena mengaitkan kenajisan tersebut dengan Tuhan. Biarlah. Biarkan saja mereka beradu kelamin dalam ruang tersebut. Karena kadang ada beberapa orang bahagia mungkin dengan cara yang kita benci. Desah dari balik selimut. Geliat yang mula-mula pelan, lalu lambat laun semakin memanas aku saksikan. Ini seperti menyaksikan langsung tayangan porno tanpa harus mendownloadnya.

Cerita sekaligus opiniku kali ini tak panjang. Aku ingin sekali tidak menulis ini. Aib sebenarnya, atau aku memang hidup dalam imajinasi yang tinggi, sehingga aku pandai sekali mengarang sebuah cerita ini. Layaknya aku bagai melihatnya sendiri. Ini nyata. Memang nyata. Tapi ini juga bagian dari imajinasiku. Biar kamu saja yang menilai. Ruang 4x4 itu menungguku.

Tangerang, 15 mei 2014
00:41 WIB

Komentar

Postingan Populer