DUNIA IMAJINASI



Dunia Imajinasi

Siang bolong duduk diam termenung, dalam ruang yang tak bertepi, tak berwujud bahkan tak terlihat. Dalam dunia dimana yang ada hanya lamunan dengan imajinasinya masing-masing. Didalam imajinasinya mereka pun mengimajinasikan dunia tersebut. Terus menerus begitu terus hingga tak ada lagi ruang untuk imajinasi. Mereka manusia lamunan. Manusia yang bercokol pada pucuk-pucuk harapan. Manusia yang tak pernah merasakan sedih dalam lamunannya, namun mengorbankan raga diperkosa waktu. Dijilati kemunafikan jaman. Dunianya memang indah, dimana semua manusianya tersenyum. Canda bagai sarapan pagi, tawa adalah kegiatan yang pasti, serta berlarian adalah makanan siang yang tersaji di tiap-tiap tudung saji yang tertutup dalam ruang tamu. Ruang tamu dalam dunia itu begitu luas, tak ada sekat, tak ada ruang untuk opini-opini yang menunafikan kehidupan

Di dunia imajinasi mereka. Aku melihat segumpal daging yang bisa diajak bicara. Bentuknya tak beraturan, sedikit berlendir dengan penuh corak ungu kehitaman, hasil ruatan urat-urat yang memunjul. Segumpal daging itu membicarakan tentang mereka-mereka yang membuangnya. Tentang para wanita yang berdarah nanah, tentang para lelaki yang berhidung layaknya zebra.

Kemudian aku lanjutkan perjalanan dalam dunia imanjinasi mereka. Aku melihat tikus-tikus got yang besar. Mereka tinggal dalam istana berbalut emas. Tikus itu bisa pula diajak bicara. Tikus itu membicarakan harapan yang sangat manis dari mulutnya, bahkan aku melihat semut merah bersarang dikerongkongan tikus tersebut. Perut tikus itu seperti kantung yang terlalu penuh hingga terbuyar keluar. Tapi yang aneh tikus itu terus membicarakan tentang kelaparan yang mereka rasakan, mereka berlomba menumpuk keju dalam kantungnya. Kemudian aku melihat mereka saling memakan, saling mengerogoti buntut dari tikus lainnya. Entahlah mereka begitu tamak.

Kembali aku melangkah dalam ruang yang semua terasa lambat, ruang dimana aku seakan tak menapakin kaki kepada bumi, langit berwarna fajar pagi hari. Udara begitu halus mengelus tengkukku yang lelah. Setelah jauh melangkah dalam dunia imajinasi mereka. Langkah aku terhenti pada sebuah rumah yang rapuh, dindingnya dari anyaman bambu, lantainya dari tanah, atapnya dari daum palem yang dikeringkan. Senyum penghuni rumah itu sangat ramah, sangat hangat. Aku terduduk diruang tamu yang bersekat kayu mahoni tua dengan kamar. Sebuah teh berwarna putih datang dihadapanku dalam dunia imajinasi ini semua berwarna semaunya saja. Aku melihat langit siang yang berwarna langit fajar, kini aku melihat teh yang berwarna putih, harumnya bagai kopi tapi rasanya tetap rasa teh. Mereka miskin tapi mereka masih mau menyuguhkan aku aneka macam makanan. Senyum hangat itu pun menempel pada punggungku yang menjauh pergi dari rumah itu.

Aku melihat sekumpualan bocah berkepala domba yang digembalakan orang dewasa berkepala serigala. Bocah-bocah tersebut tertawa lepas tak berbeban. Sedangkan dari kejauhan aku melihat sang gembala berkepala serigala duduk mengitungi jumlah bocah-bocah tersebut. Satu ditangkap. Dimasukan dalam kotak besi yang dingin dengan karat dan bercak darah dimana-mana. Lubang anus bocah tersebut menganga lebar. Lehernya habis separuh dimakan. Darah menjadi genangan. Lengking jerit bocah itu begitu nyaring, namun hanya aku yang mendengar. Punggungku pun kembali menjauhi tempat itu. Mata tak lagi kuasa menyaksikannya.

Aku muak sebenarnya berjalan dalam dunia itu, apadaya aku tak bisa sekonyongnya pergi. Lalu sekumpulan muda-mudi berlarian, dengan ikat kepala putih dengan tulisan “reformasi” dikepalanya. Muda-mudi itu berteriak. Meronta-ronta di depan istana mewah berbalut emas dimana didalamnya terdapat beberapa tikus yang tadi sangat rakus. Entah apa yang muda-mudi itu teriakkan. Aku sempat melihat sebuah suntikan yang menempel ditangan mereka. Suntikan itu bertuliskan “ideologi” dibelakang kepala mereka terdapat sebuah kabel yang panjang entah berujung dimana. Pandangan mereka kosong. Mata mereka terbelalak. Ludah mereka muncrat melontarkan aspirasi. Sia-sia mereka melakukan itu sepanjang hari hingga mati.

Di dunia ini semua memiliki warna berbeda. Ada yang kuning, putih, hitam dan ada pula yang berwarna merah. Warna warna tersebut berjalan sesuai jalurnya masing-masing. Walau ada dari beberapa warna tersebut yang salah jalan. Merah yang menobos jalur kuning dan hitam yang masuk dalam jalur si putih. Kadang warna-warna tersebut pun tega saling membunuh dimana kuning adalah korban dari pada hitam dan merah yang kejam. Sedangkan putih hanya menyaksikan diam. Ada beberapa abu-abu yang bersuara untuk menyatu. Abu-abu begitu lemah. Hingga kadang mereka pun dibunuh. Putih. Lebih baik diam.

Jalan setapak aku lihat. Tembok melengkung setengah lingkar menjadi naung. Disetiap sisi dari lengkung tersebut menyimpan banyak sekali opini. Dari kemuakan hingga kebencian. Dari protes kemarahan hingga nafsu kebirahian. Aku menyusuri jalan setapak itu, setiap langkah begitu berat. Belum lagi bisik-bisik yang menusuk gendang telingaku. Terlalu banyak opini yang keluar dari sisi lengkung tersebut. Gelap. Jalan yang memiliki naung lengkung tersebut begitu gelap. Sehingga aku mesti meraba setiap jengkalnya. Semakin jauh aku masuk. Semakin jelas pula bisik-bisik tadi. Aku mendengar jerita bayi yang sangat kelaparan. Aku juga mendengar isak tangis wanita yang seolah diperkosa. Aku mendengar suara tampar yang nyari. Aku juga mendengar suara gamelang yang sayup. Aku mendengar tawa penuh puasaan seperti habis mendapat banyak barang curian.

Jauh dan lama sekali aku berjalan. Kemudian aku melihat secercah sinar yang hampir mati. Dengan nada ringkih seorang ibu dari kejauhan menyemangatiku. Tak jelas siapa dia. Yang aku lihat hanya kebaya putih lusuh yang ia kenakan. Dan konde menempel dibelakang kepalanya. Ringkih nada itu berbunyi “Kamu bisa membawa perubahan untuk kita. Aku percaya itu” cahaya itu menghilang. Aku pun tersadar dari imajinasiku. Dan memandang keseluruh daratan. Semua yang aku pandang sama dengan apa yang aku lihat dalam dunia imajinasiku.

Kita bisa melakukan perubahan untuk negeri ini, aku percaya kita bisa.

Komentar

Postingan Populer