CERITA (WANITA) DARI NEGERI PADUSUNAN



CERITA (WANITA) DARI NEGERI PADUSUNAN

Kembali aku menginjakan kaki di Lebak Banten, tanah yang mungkin bukan tempat tujuan liburan terkenal di Indonesia. Tapi entah kenapa kebahagiaan itu datang. Aku seperti anak kecil yang mendapatkan hadiah dari orang tuanya. Aku menclak-menclok, lompat sana lompat sini karena kegirangan. Walau tidak seperti itu kenyataannya. Tepat satu hari sebelum workshop Parade Film Kampus di STKIP Rangkas Bitung aku sampai. Kali ini aku berangkat sendiri dari Tangerang. Mengantri tiket, berdesakan di dalam kereta dan akhirnya sampai di Lebak Banten.

Kali ini aku mempunyai cerita berbeda tentang Lebak Banten. Wanita. Kali ini aku ingin menceritakan tentang wanita-wanita dari negeri padusunan ini. Mereka ramah. Senyum selalu mengembang dari paras-paras manis khas wanita sunda. Mereka nampak mempesonakan aku ketika pertama kali melihatnya. Perjumpaan aku dengan wanita-wanita ini saat workshop hari pertama di kampus STKIP. Ya, kebetulan aku menjadi seksi dokumentasi untuk acara tesebut. Melalui kamera aku melihat begitu banyak paras yang mempesona. Kepolosan, senyum yang selalu mengembang, dan yang paling aku kagumi adalah keramahan mereka.

Mungkin aku tidak mendapat pekerjaan yang begitu penting dalam acara workshop hari ini. Namun aku pun bersyukur karenanya aku bisa mengabadikan begitu banyak paras-paras manis yang mempesona. Aku sempat berkenalan dengan seorang gadis bernama Rika Atunisa. Wanita ini begitu antusias dan bersemangat, ditambah parasnya yang begitu menggemaskan dan selelu terlihat ceria. Disela istirahat workshop dengan waktu yang terlalu singkat, aku tentu belum puas untuk mengobrol atau sekedar bercanda. Memang baru sebentar saja aku mengenalnya, tapi keramahaan wanita-wanita Lebak ini sungguh luar biasa. Seolah ‘Haram’ bagi mereka untuk sombong. Atau mungkin itu sudah menjadi kultur di Lebak ini. Bahwa seseorang yang baru dikenal adalah orang yang wajib untuk diberi kenyamanan saat beradu bicara. Mungkin. Aku pun tidak begitu yakin. Tapi yang pasti sosok wanita bernama Rika Atunisa adalah seorang yang sangat ramah dan ceria walau kadang terihat lebih agresif.

Selesai dengan workshop di hari pertama Parade Film Kampus hari ini. Aku pikir aku tidak akan bisa mengobrol dengan wanita yang ramah itu lagi, ternyata dugaan aku salah. Tepat pukul 18:25 WIB saaat gerimis jatuh dari langit. Wanita itu datang ketempat kami para panitia Parade Film Kampus berkumpul. Tepatnya di TBM (Taman Bacaan Masyarakat) yang memang tak jauh dari kampus STKIP. Dia datang mengenakan seragam putih-putih, lengkap dengan topi berbentuk perahu kertas yang terbalik. Ya, dia memang seorang mahasiswi jurusan keperawatan yang sedang melakukan praktek. Kebetulan hari ini dia sedang masuk malam, dan menyempatkan diri untuk mampir ketempat kami. Para panitia.

Rika Atunisa
Rika Atunisa. Wanita ini memiliki paras yang sungguh menggemaskan. Sekilas bahkan terlihat seperti Dera Indonesian Idol. Malam pukul 19:00. Mungkin lewat. Aku menghabiskan waktu berdua dengan Rika. Aku merasa seolah berdua saja. Padahal keadaan sedang ramai sekali. Mungkin karena obrolan kami yang begitu larut dan intim. Aku pun bingung, karena baru kurang dari 5 jam saja aku kenal dengan dia, namun obrolan kami begitu dekat.

Dia tidak ragu untuk menceritakan tentang mantan-mantan pacarnya. Ya, memang aku juga yang memancing untuk menjurus kearah sana. Tapi dia berbeda. Mungkin karena keramahan yang begitu besar atau apalah aku tak mengerti. Dia memanggilku dengan nama “Abang Kribo” aku sempat tertawa mendengarnya. Namun kepolosan itu yang aku suka. Logat sunda yang khas, menjadi nada yang indah terdengar dari setiap ucapan yang keluar dari bibir tipisnya. Dia juga memiliki selera humor yang tinggi. Aku berkali-kali dibuat tertawa akannya. Tentang cita-citanya yang ingin menjadi artis, tentang dia yang suka menjadi MC di acara-acara musik indie dan pengalaman-pengalaman hidupnya yang lain. Obrolan kami begitu panjang malam ini, dan sesekali terkesan ngaco.

Pukul 21:30 WIB. Dia yang harus masuk untuk dinas sebagai perawat pun pamit. Tak habis disana kegelianku akan dia, tak habisnya aku dibuat tertawa. Dengan polosnya dia berbicara kepada seluruh panitia, yang mungkin belum dikenalnnya. “aa, teteh. Rika mau titip motor geh, aman engga? Boleh ya” kalimat itu keluar dari mulutnya. Aku tercengang karena baru saja dia mengenal kami, namun nuansa persaudaraan erat sekali disini. Kepercayaan akan sesama manusia yang berakal. Mungkin. Rika memberikan kunci motornya kepadaku. Dan yang membuatku kembali tertawa adalah “Nih gembok. Jangan lupa digembok ya motornya, biar aman” aku ingin sekali tertawa lepas karena kepolosan itu. Mobil jemputannya pun datang di depan gang yang tak jauh dari tempat kami. Yang terakhir aku lihat hanyalah langkah-langkah kecil dan punggunng yang menjauh. Tak sabar untuk esok.


Rika Atunisa
Rika Atunisa


Lebak Banten
23:27 WIB

Komentar

Postingan Populer