ADAN & TARI DARI NEGERI PARA PEJUANG MIMPI
Namanya
Adan. Seorang anak yang terlahir di negeri para pejuang mimpi, dia memiliki
seorang kaka bernama Tari. Adan terlahir saat malam sedang bersinar terang.
Bulan dan bintang berdampingan. Masyarakat di negeri para pejuang mimpi percaya
setiap anak yang terlahir kala malam sedang terang memiliki keistimewahan,
karena separuh dari sinar malam itu masuk ke dalam tubuh anak yang terlahir
malam itu. Sedangkan Tari kaka dari Adan sekaligus anak pertama dari Raja &
Ratu di negeri para pejuang mimpi adalah seorang pelukis yang hebat. Setiap
detik dalam hidup Tari adalah lukisan dan gambar, entah ada berapa lukisan dan
gambar yang ia buat yang pasti setiap
lukisannya seolah memiliki nyawa. Dan keluar dari tiap-tiap kanvasnya.
Berjalan, berlari, terbang bahkan menghilang.
Matahari
baru saja terbangun dari peraduan masuk dari celah lubang angin kamar Adan,
seolah mengelus mata dan ingin membangunkan Adan. Serta kicau burung nuri kecil
yang bersahutan membuat Adan pun terbangun. Adan meraih gorden putih kemudian
mengesernya untuk menikmati binar matahari yang jaruh ke wajah Adan. Wajah Adan
terlihat pucat pagi itu. Entah aku pun tak tahu kenapa.
Sementara
Tari sudah duduk di sebuah tanam belakang istana kerajaan dengan secangkir kopi
yang masih terlihat kepulan asapanya. Tak lupa sebuah kuas dan kanvas putih
kosong menjadi sahabat dekat Tari. Ia melukiskan tenang jingga warna mentari
dan biru warna langit, serta desau angin yang lembut menyapa pipi-nya. Yang aku
lihat hanya sebuah keindahan dari setiap goresan kuas dan tinta yang beradu
dengan kanvas putihnya. Mereka menari, bernyanyi, terbang, berjalan bahkan
hilang.
Dengan
langkah lunglai Adan menghampiri Tari sedang menyelam atau bahkan terbang ke
dalam dunianya sendiri. “Lagi apa kak ?” kalimat yang keluar dari mulut Adan.
“Eh kamu udah bangun. Ini kakak lagi ngelukis tentang matahari dan langit serta
desau angin ramah” sedikit panjang namun dengan nada yang lembut Tari menjawab
pertanyaan Adan. “Indah” hanya satu kata yang keluar dari mulut Adan. “Tapi
akan lebih indah kalo ada tinta di wajahmu” sambil mencipratkan tinta ke wajah
Adan, Tari pun tertawa kemudian berlari. Adan membalasnya namun tidak kena.
Mereka menghabiskan waktu pagi dengan sebuah canda yang penuh cinta. Tari
adalah seorang kaka yang sangat mencintai adiknya, Adan. Tari memeliki caranya
tersendiri untuk mengungkapkan rasa sayang dan cintanya tersebut.
Malam
di negeri para pejuang mimpi. Ibu dari Adan dan Tari yang juga ratu di negeri
itu sedang bercerita. Terlihat Adan dan Tari sedang duduk di sebuah ranjang
kayu dengan renda kelambu putih bermotif putri duyung. Kamar Tari. Ibu
menceritakan tentang kisah para pejuang kuno di negeri para pejuang mimpi.
Tentang para ksatria yang mampu mengalahkan ego dan pikirannya. Tentang para
ksatria yang mampu melawan racun dalam tubuhnya. Mereka percaya jika terus
bermimpi maka mereka akan terus hidup, namun saat tidak ada lagi mimpi dan harapan
kematian hanya tinggal menunggu datangnya saja. Adan dan Tari terlihat sangat
antusias. Malam pun semakin larut, bintang dan bulan bahkan sudah terlihat
kisut. mereka pun memutuskan mengakhiri malam dengan sebuah kecupan di kening
mereka masing-masing.
***
Adan
kini tumbuh menjadi seorang remaja yang pemberani. Tahun pertama untuk ujian dalam
hidupnya. Perang melawan seekor Ego dalam diri sendiri. Setaip detik dalam
ujiannya adalah sebuah jarum yang menghujam jantung, dan bunyi desing yang
begitu pengang. Ego seekor monster besar dalam raga manusia, setiap anak di
negeri para pejuang mimpi harus bisa mengalahkannya. Satu bulan terlewati Adan
mampu melawan egonya. Hingga ia bisa mendapatkan pengakuan “dewasa” di negeri
para pejuang mimpi. Ritual tahunan yang harus dilalui oleh setiap anak
laki-laki di negeri itu. Mereka harus bisa mengalahkan ego dalam dirinya. Ego
dalam diri adalah sebuah sifat yang sangat sulit dikalahkan, tak sedikit yang
gagal dan mati dalam egonya sendiri di negeri para pejuang mimpi. Namun Adan
mampu melewatinya. 30 hari lamanya Adan
terasing dalam sebuah goa yang disebut, Goa Kontemplasi. Goa untuk perenungan
atas semua ego yang ada, dan hanya sebuah ketenangan yang mampu mengalahkannya.
Setibanya
kembali dari Goa Kontemplasi. Adan disambut bak seorang ksatria yang gagah dan
berani. Mulai dari tari-tarian hingga pesta kembang api diadakan di negeri
tersebut. Tak lupa sebuah lukisan tentang perjalanan 30 hari Adan dalam Goa
Kontemplasi, dari seorang kaka yang sangat mencintai Adan. Adan terlihat sangat
gembira. Air matanya jatuh dari sudut matanya yang tajam saat menerima sebuah
lukisan yang menggambarkan tentang dirinya tersebut. Kemudian Adan memeluk
kakanya. Tari. Pelukan yang dinaungi sebuah renda kelambu cahaya senja. Cahaya
yang memberi ketenangan. Tari pun mengajak Adan untuk berlarian mengelilingi
kepenjuru Negeri. Mereka tertawa kemudian lelah dan duduk sambil menyaksikan
sinar ketenangan yang mulai pudar.
Angin
pengembara serta matahari jingga bertukaran tempat dengan sangat cepat. Bulan
yang mula setengah kini bulat utuh. Kemudian begantian lagi dengan matahari.
Luruh daun kering menjadi pertanda musim baru pun tiba. Adan terlihat semakin
pucat wajahnya. Ia terlihat sedang mengalami sakit parah. Namun ia tak ingin
menunjukan rasa sakitnya kepada siapa pun. Tari datang kedalam kamar Adan dan
mendapati Adan sedang terbujur lemah di atas ranjang dengan ukiran malaikat
kecil disetiap sisinya. “Kamu kenapa ?” dengan nada risau Tari menanyakannya.
“Aku gapapa ko ka, Cuma lagi gak enak badan aja” dengan nada yang sedikit
ringkih Adan menjawabnya. Adan adalah seorang sosok yang sangat berani, ia
bercita-cita menjadi ksatria pejuang mimpi yang gagah dan mampu memenangkan
peperangan atas batin-nya sendiri. Ia memiliki sebuah mimpi besar tentang
negeri yang damai tanpa perkara, tanpa kesedihan atau tanpa peperangan atas
perut dan rasa ego.
Adan
terkena penyakit yang entah namanya. Seluruh penjuru negeri pun mengetahuinya,
begitupun Tari. Air mata jatuh di ujung mata Tari yang sendu. Aku tidak tahu
kenapa. Mungkin itu yang namanya cinta. Adan pun mencoba melawan penyakit yang
tak tahu apa namanya, dengan sekuat tenaga. Hari cepat sekali berganti, putaran
jarum jam dan dentiknya terus bertabuhan beralunan. Adan ringkih terbaring
lemah. Tari hanya melihat dari balik pintu kayu pohon oak kamar Adan. Aku tak
begitu mengerti kenapa Adan sangat kuat bertahan melawan penyakitnya. Seorang
tabib di negeri itu berkata hanya tinggal beberapa hari lagi usia Adan. Tari
yang mendengar itu pun semakin tersayat pilu hatinya.
Sebuah
sore yang jingga. Tari duduk di tepi sebuah kolam ikan yang tenang. Angin
seolah membelai rambutnya yang sebahu. Kemudian sebuah bayangan jatuh di tubuh
Tari. Bayangan Adan. “Kamu gak istirahat” sambil mengusah air matanya Tari
mencoba tegar. “Aku udah sehat ko ka” mencoba meyakinkan Tari dengan wajah
pucatnya. “Waktu aku tinggal sebentar kan ka” sambil duduk di sebelah Tari.
“Kamu ngomong apa, kamu masih punya masa depan, kamu masih mau kan lihat negeri
ini damai dan sejahtera ?” sambil merangkul pundak Adan. Tari mencoba
meyakinkan Adan. Adan terlihat tersentak, matanya terbuka melihat pantulan
matahari senja yang memberi ketenangan di kolam ikan yang berpendar terang.
Tari pun hanya tersenyum.
***
Adan
berjuang melawan penyakitnya. Penyakit yang entah namanya apa. Aku melihat
peluh keringat sebesar biji jagung saat Adan mencoba berdiri dari ranjangnya,
hanya untuk berjalan keluar dari kamarnya. Hari demi hari Adan lewati dengan
sebuah kegetiran serta bayang kaka dan orang-orang yang ia cintai, ia pun
berjuang semakin keras setiap harinya. Sampai satu sore yang tenang. Adan
terbangun dari tidur siangnya. Dengan wajah yang menahan nyeri Adan terbangun. Adan
mencoba membasuh wajah dan bercermin, bayang wajah Adan pun jatuh di cermin
bulat itu, wajah Adan terlihat merah tak pucat. Nyeri yang ia rasakan pun
hilang. Entah aku tak begitu mengerti kenapa. Penyakit Adan hilang, setelah
tabib memeriksanya, dan wajah tabib yang kebingungan namun senang pun tergambar
disana. Penyakit Adan benar hilang. Tari hanya tersenyum dari kejauhan melihat
itu.
Penyakit
Adan hilang saat sore yang tenang di kolam ikan Tari memberikan separuh cahaya
bulan miliknya untuk Adan, Tari tahu tindakan itu bisa saja membunuhnya, namun
kekuatan cinta seorang kaka mampu mengalahkan semuanya.
Aku percaya jika cinta
mampu membuat sesuatu yang seharusnya tiada menjadi hidup kembali.
Komentar
Posting Komentar