KITA KINI

Aku sebenarnya muak. Muak akan sebuah ketamakan dan trend yang kita ciptakan sendiri. Trend untuk berbagi. Bukan berbagi dalam artian yang baik. Namun berbagi rasa iri. Iya, iri yang aku maksud adalah ketika kita dengan sengaja menciptakan rasa iri untuk dinikmati orang lain. Rasa yang timbul setelah kita dengan sengaja memamerkan apa yang kita punya. Entah itu kekayaan, kebahagian sesaat atau mungkin isi dalam celana dalam. Dari merk yang terkenal sampai tempat makan yang paling mahal. Memang. Generasi kita telah diperbudak oleh jaman. Tapi apakah kita mau diperbudak ?

Dulu saat aku masih duduk di sekolah menengah atas aku masih ingat perkataan seorang guru “Manusia selalu memiliki kebutuhan primer” Ya. Itu kan dulu. Kini kita sebagai manusia modern memiliki satu kebutuhan khusus. Yaitu kebutuhan Pamer. Kenapa kita begitu suka semua orang tahu akan apa yang kita punya dan yang kita lakukan. Bukankah kita seharusnya memiliki daerah khusus yang bernama “Privasi” ? karena tidak semua hal seharusnya kita beritahukan kepada orang lain.

Setelah satu tahun aku berkuliah, aku cukup mengamati kehidupan mahasiswa. Kaum intelektual katanya. Kadang aku ingin tertawa saat mendengar kaum intelektual yang disandangkan kepada mahasiswa. Apakah kaum intelektual suka memamerkan harta orang tuanya. Atau menggunakan uang orang tuanya hanya untuk memuaskan nafsu yang ada di dalam celana mereka ? aku rasa tidak. Entahlah mungkin aku saja yang iri dengan mereka. Atau mereka yang seharusnya iri denganku. Jangan menghakimi lebih baik beropini. Jangan banyak bicara bila nol karya.

Kemuakan aku sebenarnya memuncak saat ada mahasiswa yang lebih suka menertawakan orang lain atas apa yang mereka tidak mengerti, ketimbang menertawakan diri mereka sendiri yang memang lebih layak untuk ditertawakan. Aku sebut mereka adalah kaum penertawa. Kaum yang suka sekali bullying. Namun terlihat sangat cengeng ketika sendiri. Entahlah mungkin orang tua mereka salah memberi mereka makanan atau mungkin masa kecil mereka terlalu menyedihkan untuk dijabarkan. Mereka suka menertawakan hal yang mereka anggap salah, hanya karena mereka tidak suka. Aku hanya heran, kenapa kita begitu naif. Jangan membenci hal yang tidak kita mengerti. Lebih baik pulang lalu tidur.

Aku merasa lebih beruntung ketika melihat seorang anak kecil yang membawa karung besar berisi botol bekas. Dia biasa berjalan mondar-mandir dalam kampusku mencari bahkan terkadang menanyakan adakah botol kosong yang sudah tak terpakai kepada mahasiswa yang bahkan terkesan tak perduli saat si anak kecil itu menanyakan. Aku bukan juga malaikat yang baik hati, kadang aku juga suka lupa bersyukur atas apa yang aku punya. Aku ingin sekali peduli. Namun isi kantongku hanya cukup untuk makan, bahkan kadang kurang. Aku hanya bisa memberikan botol bekas yang tak terpakai. Atau membantu si anak kecil tadi mengangkat karung besarnya melawati pagar besi yang terkunci belakang kampus. Tapi aku tetap bukanlah malaikat yang baik hati.

Opini aku kali ini memang terkesan sinis, namun jika kita sedikit saja ingin untuk berkontemplasi, kita akan menemukan siapa kita yang sebenarnya. Bertindaklah sesuai kebutuhan bukan keinginan. Agar semua yang kita lakukan tidak berlebihan. Ingat, aku bukanlah malaikat yang baik hati. Aku pun tetap memiliki kekurangan. Kita hanya perlu tahu siapa kita dan untuk apa kita. bicaralah sesuai otakmu. Jangan banyak bicara bila nol karya.


Komentar

Postingan Populer